BRIEF.ID – Harga emas dunia anjlok hingga terhempas dari level US$4.000 per troy ounce, yang merupakan level terendah sejak November 2025.
Pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026) waktu setempat, harga emas dunia di pasar spot terpantau anjlok 2,77% ke level US$3.999 per troy ounce.
Hal itu, mempertegas pergerakan harga emas dunia, yang berada dalam tren melemah. Dalam dua hari terakahir, harga emas dunia tercatat telah terkoreksi sebesar 4%.
Pelemahan harga emas dunia, dipengaruhi prediksi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan di paruh kedua tahun ini.
Prediksi tersebut disinyalir dari konferensi pers Gubernur The Fed, Kevin Warsh, seusai rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada pekan lalu.
Dalam pernyataannya, Kevin Warsh berulang kali menegaskan komitmen The Fed terhadap stabilitas harga. Itu berarti The Fed lebih mengutamakan stabilitas harga, daripada mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR), jika inflasi terus meningkat.
Kemungkinan kenaikan FFR dimulai pada Juli 2026 atau September 2026. Mengutip CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75-4% pada rapat Juli sudah mencapai 34,2%.
Bahkan pelaku pasar memprediksi ada peluang suku bunga acuan Negeri Paman Sam dikerek hingga 50 bps ke 4-4,25% dalam rapat Komite Pembuat Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC) September 2026.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas menjadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi. (jea)


