BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah di pasar luar negeri (offshore) kembali menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), pada Kamis (25/6/2026).
Pada perdagangan Non-Deliverable Forward (NDF), nilai tukar rupiah dibuka di level Rp18.003 per dolar AS, lalu menyusut ke Rp18.012 per dolar AS.
Sementara kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada perdagangan hari ini dibuka melemah 0,08% atau 15 poin menjadi Rp17.967 per dolar AS.
Hingga penutupan sesi I perdagangan pada pukul 12:00 WIB, pelemahan nilai tukar rupiah Jisdor terpantau menyusut ke level Rp17.936 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi pergerakan Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama, yang melanjutkan penguatan ke level 101,63.
Selain itu, penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang berdampak pada pasar surat utang negara (SUN), turun mempengaruhi pelemahan rupiah. Volume transaksi SUN terpantau turun sebesar 43,29% menjadi Rp23,7 triliun dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Meningkatnya persepsi risiko investor di pasar surat utang tercermin dalam Credit Default Swap (CDS). Hal itu, semakin diperparah oleh kondisi ekonomi domestik yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap arus modal asing.
Adapun CDS sovereign Indonesia tenor lima tahun kembali melonjak ke 91,31 pada hari ini, dari posisi terendah di 86,95 pada 17 Juni 2026.
Berbeda dengan peringkat kredit terbitan lembaga pemeringkat rating yang cenderung bergerak lambat, CDS menangkap persepsi risiko secara real time.
Terkait dengan itu, pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih melemah di rentang Rp17.940 per dolar AS hingga Rp18.000 per dolar AS. (jea)


