BRIEF.ID – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas seiring terjadinya serangan baru, namun harapan penyelesaian melalui jalur diplomatik belum sepenuhnya sirna.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan sinyal bahwa pintu perundingan masih terbuka apabila terdapat keseriusan dari semua pihak untuk meredakan ketegangan.
“Saya menolak dualitas antara perang dan diplomasi. Diplomasi adalah alat yang kita gunakan untuk mengejar kepentingan nasional kita, sama seperti perang,” kata Esmaeil Baghaei dikutip dari Reuters, Selasa (21/7/2026).
Pernyataan Baghaei sempat memberikan angin segar bagi pasar keuangan global yang sebelumnya diliputi kekhawatiran terhadap meluasnya konflik di Timur Tengah. Namun, pelaku pasar tetap bersikap hati-hati karena hingga kini belum ada tanda-tanda deeskalasi yang nyata.
Selama risiko geopolitik masih tinggi, volatilitas harga minyak dan aset keuangan global diperkirakan akan tetap meningkat.
Bagi investor, perkembangan diplomasi AS-Iran menjadi faktor yang akan terus dicermati. Keberhasilan perundingan berpotensi meredakan lonjakan harga energi dan menenangkan pasar.
Sebaliknya, apabila konflik terus bereskalasi, kenaikan harga minyak dapat kembali memicu tekanan inflasi global, memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi oleh Federal Reserve (The Fed), serta meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan dunia. (nov)


