BRIEF.ID – Indeks-indeks utama Bursa Wall Street, New York, Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (20/7/2026). Sentimen pasar tertekan oleh meningkatnya eskalasi konflik antara AS dan Iran, yang mendorong lonjakan harga minyak mentah.
Meski demikian, tekanan sempat mereda setelah juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyampaikan sinyal yang membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menambah ketidakpastian di pasar keuangan global, yang sebelumnya telah dibayangi kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Jika harga minyak bertahan pada level tinggi dalam waktu yang lama, tekanan inflasi di AS berpotensi meningkat kembali sehingga memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkan suku bunga.
Dari kawasan Asia, People’s Bank of China (PBoC) kembali mempertahankan suku bunga pinjaman acuan (Loan Prime Rate/LPR) pada level terendah dalam 14 bulan berturut-turut, yakni 3% untuk tenor satu tahun dan 3,5% untuk tenor lima tahun, pada Senin (20/7/2026).
Keputusan itu menunjukkan sikap hati-hati otoritas moneter Tiongkok meskipun pertumbuhan ekonomi negara itu melambat pada Kuartal II-2026. PBoC tampaknya memilih menunggu perkembangan konflik di Timur Tengah sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut.
Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati rilis data tingkat pengangguran Inggris yang dijadwalkan pada Selasa (21/7/2026). Tingkat pengangguran diperkirakan naik tipis menjadi 5,0% pada Mei 2026 dari 4,9% pada April 2026.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah naik sekitar 1% pada perdagangan Senin (20/7/2026), memperpanjang reli menjadi sekitar 20% sepanjang bulan ini sejak meningkatnya konflik AS-Iran. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari 5 basis poin ke level 4,594%, mencerminkan meningkatnya ekspektasi suku bunga tetap tinggi.
Berbeda dengan minyak, harga emas spot justru turun 0,2% ke level US$ 4.006 per troy ons. Pergerakan harga emas cenderung terbatas karena investor masih menimbang dampak konflik geopolitik terhadap inflasi global dan harga energi, di tengah sinyal The Fed bahwa pengetatan kebijakan moneter masih mungkin dilakukan apabila tekanan inflasi kembali meningkat. (nov)


