BRIEF.ID – Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Chatib Basri, bertemu Presiden Prabowo Subianto, di Istana Kepresidenan, Selasa (9/6/2026), di tengah isu pergantian Menteri Keuangan (Menkeu).
Kehadiran Chatib di Istana Kepresidenan langsung menyita perhatian awak media, karena namanya santer disebut masuk bursa menteri, seiring isu perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih.
Chatib menjadi salah satu calon potensial untuk mengisi posisi Menkeu, karena sebelumnya, pernah menjabat posisi ini pada Mei 2013 hingga Oktober 2014, di masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Seusai bertemu Prabowo, Chatib menyampaikan hanya membahas soal kondisi ekonomi. Dia juga membantah ditawari menjadi Menkeu menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Kepada awak media, Chatib mengaku dipanggil Presiden Prabowo bersama Ketua DEN, Luhut Binsar Pandjaitan, dan sejumlah tokoh lainnya untuk membahas perkembangan perekonomian global dan domestik.
“Enggak ada (tawaran jadi Menkeu), kita bahas soal ekonomi kok,” kata Chatib, kepada awak media.
Isu reshuffle Kabinet Merah Putih khususnya posisi menkeu merebak seiring kondisi rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terpuruk.
Presiden Prabowo dikabarkan sedang mempertimbangkan sejumlah nama untuk menjadi menkeu menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Meski demikian, Purbaya menyatakan tetap melanjutkan jabatannya sebagai bendahara negara sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Kami ikut perintah Bapak Presiden. Jadi, komitmennya kuat, maju terus. Mundur juga maju kita,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Purbaya juga mempertanyakan sumber rumor yang menyebutkan pengunduran dirinya dari kursi Menteri Keuangan. Menurut dia, rumor itu disebarkan untuk memengaruhi sentimen pasar.
Kabar mengenai reshuffle Kabinet Merah Putih juga dibantah Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi. Menurut dia, tidak ada rencana presiden untuk mengganti Menkeu, maupun Gubernur Bank Indonesia.
Saat ini, lanjutnya, pemerintah justru sedang fokus memperkuat koordinasi antarotoritas ekonomi, untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan mendukung pertumbuhan nasional. (jea)


