BRIEF.ID – Harga Bitcoin bergerak menguat tipis pada perdagangan Selasa (4/8/2026), namun masih tertahan di kisaran US$ 64.000 seiring sikap hati-hati investor dalam merespons aksi penjualan aset oleh Strategy serta ketidakpastian prospek kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia itu naik sekitar 1% menjadi US$ 64.226,3 pada pukul 21.37 GMT atau pukul 04.37 WIB. Meski menguat, pergerakan Bitcoin masih terbatas dalam rentang sempit karena pelaku pasar belum menemukan katalis baru yang cukup kuat untuk mendorong reli lebih lanjut.
Salah satu sentimen yang membebani pasar datang dari Strategy, salah satu pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia. Perusahaan itu mengungkapkan telah kembali menjual sebagian kepemilikan Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir, memicu kekhawatiran mengenai potensi bertambahnya pasokan aset kripto di pasar.
Di saat yang sama, investor juga mencermati perkembangan negosiasi diplomatik antara AS dan Iran yang masih berlangsung. Beragam sinyal dari kedua negara membuat pelaku pasar cenderung menahan diri, sementara perhatian juga tertuju pada arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan tetap ketat lebih lama.
Prospek suku bunga tinggi biasanya menjadi tantangan bagi aset berisiko, termasuk mata uang kripto, karena meningkatkan daya tarik instrumen investasi berpendapatan tetap seperti obligasi.
Selain faktor makroekonomi, pasar kripto juga diguncang kabar peretasan terhadap cold wallet milik perusahaan dompet kripto asal Kanada, Coinkite. Insiden tersebut mengakibatkan hilangnya Bitcoin senilai hampir US$90 juta.
Peretasan itu mengejutkan pelaku pasar karena cold wallet, yang tidak terhubung langsung ke internet, selama ini dianggap sebagai salah satu metode penyimpanan aset kripto yang paling aman. Kasus tersebut kembali mengingatkan investor bahwa risiko keamanan siber masih menjadi tantangan utama dalam industri aset digital.
Dengan belum adanya katalis yang dominan, analis memperkirakan Bitcoin masih akan bergerak terbatas dalam jangka pendek sambil menunggu perkembangan kebijakan moneter AS, kondisi geopolitik global, serta sentimen baru dari industri kripto. (nov)


