1.000 Tambang Ilegal Ditutup, Laba PT Timah Melonjak 9 Kali Lipat

BRIEF.ID – Penertiban tambang timah ilegal di Bangka Belitung mulai menunjukkan dampak yang signifikan terhadap industri timah nasional.

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan langkah pemerintah menutup sekitar 1.000 titik tambang ilegal ikut mendorong perbaikan kinerja PT Timah Tbk (TINS), yang laba bersihnya melonjak hampir sembilan kali lipat pada semester I 2026.

Dalam Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026), Prabowo mengatakan PT Timah mencatat keuntungan Rp2,7 triliun hanya dalam enam bulan pertama 2026.

“Bayangkan dalam 6 bulan tahun 2026 ini, PT Timah telah mencapai keuntungan Rp2,7 triliun, sembilan kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Saudara-saudara, artinya naik 900 persen,” tutur Prabowo.

Angka tersebut sejalan dengan laporan kinerja PT Timah. Pada semester I 2025, perusahaan membukukan laba bersih Rp300,07 miliar. Sementara pada semester I 2026, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp2,71 triliun, kenaikan laba tersebut mencapai sekitar 803 persen secara tahunan atau hampir sembilan kali lipat secara nominal.

Kinerja tersebut tidak dapat dilepaskan dari perubahan tata kelola pertambangan timah yang dilakukan pemerintah sejak 2025. Seperti diketahui pada September 2025 lalu, Prabowo mengungkapkan adanya sekitar 1.000 lokasi tambang timah ilegal di Bangka Belitung.

Pemerintah kata Prabowo, kemudian mengerahkan TNI, Polri, dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk menindak aktivitas penambangan ilegal sekaligus memutus jalur penyelundupan timah.

Saat itu, pemerintah memperkirakan penutupan tambang ilegal dan pemberantasan jalur penyelundupan berpotensi menyelamatkan kerugian negara hingga Rp22 triliun untuk periode September-Desember 2025 dan mencapai Rp45 triliun hingga 2026.

Masalah tambang ilegal di Bangka Belitung bukan sekadar persoalan penerimaan negara. Aktivitas penambangan tanpa izin juga telah dikaitkan dengan kerusakan ekosistem pesisir dan gangguan terhadap aktivitas nelayan di sejumlah wilayah.

Dalam konteks industri, penertiban tersebut juga diarahkan untuk mengembalikan aktivitas pertambangan timah ke dalam rantai produksi dan perdagangan yang lebih tertib serta terawasi.

Meski Prabowo mengaitkan kenaikan profit PT Timah dengan penutupan tambang ilegal, data kinerja perseroan menunjukkan ada sejumlah faktor lain yang turut menopang lonjakan laba.

Pada semester I 2026, pendapatan PT Timah mencapai Rp10,42 triliun, naik sekitar 147 persen dibandingkan Rp4,22 triliun pada semester I 2025. Laba usaha juga melonjak dari sekitar Rp380 miliar menjadi lebih dari Rp3,4 triliun.

Dari sisi produksi, produksi bijih timah PT Timah mencapai 12.232 ton Sn pada semester I 2026, meningkat 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi logam timah mencapai 10.865 metrik ton, sedangkan penjualan logam timah tercatat 10.984 metrik ton.

Harga timah dunia juga memberikan dorongan besar. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) pada semester I 2026 mencapai US$50.319,19 per metrik ton, naik 56,68 persen dibandingkan US$32.115,77 per metrik ton pada semester I 2025.

Artinya, lonjakan laba PT Timah merupakan kombinasi antara membaiknya kondisi pasar timah, peningkatan produksi dan penjualan, serta upaya perusahaan memperbaiki tata kelola dan operasional.

PT Timah sebelumnya menyatakan penguatan tata kelola pertimahan menjadi salah satu strategi utama perseroan. Pada 2025, perusahaan membukukan laba bersih Rp1,31 triliun dan menyebut optimalisasi operasi, pemasaran, serta efisiensi keuangan sebagai bagian dari strategi peningkatan kinerja.

Prabowo juga menyoroti peningkatan valuasi PT Timah. Menurut dia, valuasi perusahaan meningkat 280 persen dibandingkan Agustus 2025. “Sekarang naik 280 persen di bulan Agustus 2026 dibanding Agustus 2025 yang lalu,” ujar Prabowo.

Lonjakan kinerja keuangan memang memperkuat persepsi terhadap prospek PT Timah. Namun, pergerakan valuasi atau kapitalisasi pasar perusahaan juga dipengaruhi berbagai faktor, termasuk harga komoditas, ekspektasi investor, kondisi pasar saham, dan prospek produksi.

Karena itu, kenaikan valuasi tersebut perlu dibaca sebagai bagian dari sentimen pasar terhadap membaiknya kinerja perseroan, bukan hanya sebagai konsekuensi tunggal dari penutupan tambang ilegal.

Prabowo dalam pidatonya juga memaparkan perbaikan kinerja sejumlah BUMN lainnya. Prabowo menyebut laba bersih PT Semen Indonesia pada semester I 2026 meningkat 408,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba PT Pupuk Indonesia disebut naik 252,8 persen.

“Untung bersih PT Pertamina naik 86 persen. Untung bersih Pegadaian naik 84,4 persen. Saudara-saudara, untung bersih Pelindo naik 60,4 persen dan untung bersih PTPN naik 54,4 persen,” tutur Prabowo.

Presiden juga menyinggung proses pemulihan PT Garuda Indonesia. Menurut dia, pemerintah telah mengaktifkan kembali sejumlah pesawat yang sebelumnya berstatus grounded.

“​​Kini kita berhasil reaktivasi pesawat-pesawat yang grounded. Per bulan Juni 2026 total pesawat yang berhasil kita reaktivasi bertambah 20 pesawat, sehingga menjadi 140 pesawat,” kata Prabowo.

Prabowo berharap maskapai nasional tersebut kembali mencatat keuntungan pada 2027. “Kalau kemarin tidak terjadi perang di Timur Tengah sesungguhnya bulan Juli ini, Indonesia sudah untung. Kita sekarang berharap di awal tahun 2027 mereka sudah mulai untung,” ujarnya. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Prabowo Bangga Kinerja MA dan MK Usai Gaji Hakim Dinaikkan hingga 280 Persen

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi terhadap kinerja...

Tahun 2026, Dividen BUMN Diproyeksikan Tembus Rp 200 Triliun

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto menyatakan dividen Badan Usaha...

IHSG Berbalik Menguat, Investor Respons Positif Pidato Kenegaraan Prabowo

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Akhir Tahun 2026, Pemerintah Targetkan Hanya Mengoperasikan 300 BUMN  

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Badan Usaha...