BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah melanjurkan tren melemah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (28/9/2026), seiring kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan inflasi Indonesia.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka melemah 0,25% atau 45 poin menjadi Rp17.948 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.903 per dolar AS.
Hingga pukul 11:15 WIB, nilai tukar rupiah Jisdor terpantau terus tertekan hingga menyentuh level Rp17.967 per dolar AS, turun 0,35% atau 64 poin dari Rp17.903 pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026).
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah membuka perdagangan hari ini dengan terkoreksi 0,34% ke level Rp17.953 per dolar AS, dan terus melanjutkan pelemahan.
Pelemahan rupiah dipicu lonjakan harga minyak dunia setelah Amerika Serikat (AS) dikabarkan menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Pada sesi pagi perdagangan hari ini, harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan global dibuka di kisaran US$106 per barel. Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,3% ke level US$93,62 per barel.
Lonjakan harga minyak dunia menekan mayoritas mata uang Asia pada perdagangan hari ini, antara lain Baht Thailand (-0,45%), Yen Jepang (-0,27%), disusurl Won Korea Selatan, Ringgit Malaysia, Dolar Singapura, Peso Filipina serta Yuan Tiongkok.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah dipicu kekhawitran investor terhadap data ekonomi Indonesia yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada pekan ini.
Inflasi Indonesia pada September 2026 diperkirakan lebih tinggi di 3,3% secara tahunan atau year-on-year (yoy), dipicu lonjakan harga minyak dunia, yang berimbas pada kenaikan harga barang dan energi.
Bloomberg Economics memperkirakan inflasi Indonesia per September 2026 menembus batas atas target BI yang dipatok 1,5%-3,5%, dipicu kenaikan harga pangan.
Selain inflasi, pelaku pasar juga mengkhawatirkan data neraca perdagangan Indonesia per Agustus 2026, yang diperkirakan mengalami koreksi seiring melambatnya ekspor.
Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg, menunjukkan estimasi impor Agustus 2026 tumbuh 27,8% yoy dari 27,02% yoy pada Juli 2026. Sementara, ekspor diperkirakan melambat tajam dari 6,05% pada Juli 2026, menjadi 2,5% pada Agustus 2026.
Kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut, membuat rupiah tertekan, dan diperkirakan bergerak di kisaran level Rp17.700 per dolar AS hingga Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini. (Jea)


