IHSG Ambruk ke Level 6.100 saat BEI Berlakukan Batas Bawah Harga Saham Jadi Rp1

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk ke level 6.100 saat Bursa Efek Indonesia (BEI) efektif memberlakukan batas bawah harga saham menjadi Rp1 pada Senin (28/9/2026).

Hingga pukul 13:00 waktu JATS, IHSG terpantau terkoreksi 0,97% atau 60,45 poin di level 6.181. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di zona merah dengan menyentuh level tertinggi di 6.227, dan level terendah di 6.174.

Sebelumnya pada awal perdagangan hari ini, IHSG dibuka melemah 0,51% atau 32,14 poin ke posisi 6.209. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,67% atau 4,17 poin ke posisi 616,94.

Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 496 saham turun harga, 193 saham naik harga, dan 102 saham tidak mengalami perubahan harga.

Volume saham yang ditransaksikan hingga pukul 13:00 waktu JATS tercatat mencapai 23,388 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.020.488 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp6,416 triliun.

Pelemahan IHSG terjadi seiring BEI resmi mengimplementasikan harga saham terendah (minimum) dari semula Rp50 menjadi Rp1 per saham mulai hari ini.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan menghadirkan price discovery yang lebih baik untuk saham-saham yang sudah lama berada di harga Rp50 dan tidak likuid (aktif ditransaksikan).

Selain itu, tekanan terhadap IHSG dipicu kekhawitran investor terhadap data ekonomi Indonesia yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada pekan ini.

Pelaku pasar memperkirakan inflasi Indonesia pada September 2026 lebih tinggi di 3,3% secara tahunan atau year-on-year (yoy), dipicu lonjakan harga minyak dunia, yang berimbas pada kenaikan harga barang dan energi.

Bloomberg Economics memperkirakan inflasi Indonesia per September 2026 menembus batas atas target BI yang dipatok 1,5%-3,5%, dipicu kenaikan harga pangan.

Selain inflasi, pelaku pasar juga mengkhawatirkan data neraca perdagangan Indonesia per Agustus 2026, yang diperkirakan mengalami koreksi seiring melambatnya ekspor.

Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg, menunjukkan estimasi impor Agustus 2026 tumbuh 27,8% yoy dari 27,02% yoy pada Juli 2026. Sementara, ekspor diperkirakan melambat tajam dari 6,05% pada Juli 2026, menjadi 2,5% pada Agustus 2026.

Dari faktor eksternal, IHSG tertekan sinyal kebijakan moneter ketat, seiring bank sentral di berbagai negara telah menaikkan suku bunga acuan. Tren tersebut diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun ini, bahkan di tahun 2027.

Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed)
telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis point (bps), begitu juga Bank of Japan (BoJ), dan European Central Bank (ECB).

Berbagai faktor tersebut, membuat IHSG cenderung tertekan ke zona merah, dan bergerak di kisaran level support 6.100 hingga level resistance 6.200. (Jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Lanjutkan Tren Melemah, Pelaku Pasar Khawatir Lonjakan Inflasi

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah melanjurkan tren melemah...

Harga Emas Antam Melemah di awal Pekan, Dibanderol Rp2.597.000 per Gram

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi  PT Aneka Tambang...

IHSG Diperkirakan Masih Tertekan, Berpeluang Uji Level 6.200

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih...

Pestapora 2026 Bikin Penonton Dilema: Ingin Pindah Panggung, Lautan Manusia Jadi Tantangan

BRIEF.ID – Festival Pestapora 2026 yang diselenggarakan di Gambir...