BRIEF.ID – Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh membuka peluang kenaikan suku bunga pada September dan menegaskan fokus bank sentral AS itu pada inflasi yang masih persisten.
Dalam pidatonya pada Jackson Hole Economic Policy Symposium, Warsh menilai inflasi masih terlalu tinggi dan belum menunjukkan kemajuan yang cukup menuju target The Fed sebesar 2%. Sikap ini memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Chief Investment Officer (CIO) Truist Wealth, Keith Lerner catatan riset yang dirilis Investing.com, Minggu (30/8/2026) menilai kondisi ekonomi AS yang masih kuat, pasar tenaga kerja stabil, likuiditas meningkat, dan kondisi keuangan belum restriktif memberi ruang bagi The Fed untuk tetap fokus menekan inflasi.
Pernyataan Warsh menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga pada pertemuan September tetap berada di atas meja. Warsh dinilai lebih memprioritaskan risiko inflasi dibandingkan kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja.
Pasar langsung merespons sikap hawkish tersebut. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September melonjak menjadi sekitar 55%, dari 35% sehari sebelumnya, berdasarkan harga kontrak berjangka yang dipantau CME FedWatch.
Warsh tidak memberikan komitmen mengenai waktu kenaikan suku bunga. Namun, ia menegaskan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila belum yakin inflasi akan kembali menuju target 2%.
Pernyataan Warsh mengindikasikan bahwa data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis sebelum pertemuan The Fed pada 15–16 September akan menjadi faktor penentu utama arah kebijakan.
Bagi pasar keuangan, perubahan ekspektasi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap aset berisiko, sekaligus mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury dan memperkuat dolar AS. Investor kini menghadapi kembali risiko bahwa siklus pelonggaran moneter yang diharapkan sebelumnya dapat tertunda atau bahkan berbalik menjadi pengetatan. (Investing.com/nov)


