BRIEF.ID – Indeks di Bursa Wall Street mencetak rekor tertinggi pada penutupan Jumat (8/5/2026), menyusul lonjakan harga saham chip dan laporan pekerjaan di Amerika Serikat (AS) bulan April 2026 yang lebih kuat dari perkiraan.
Para pelaku pasar juga terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah, setelah terjadi bentrokan baru di Selat Hormuz, yang membuat para pedagang tetap waspada. Presiden AS Donald Trump mengatakan, kepada ABC News bahwa gencatan senjata AS-Iran masih berlaku meskipun terjadi pertempuran baru.
Indeks acuan S&P 500 naik 0,8% menjadi 7.396,79 poin, sementara NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi bertambah 1,7% menjadi 26.247,08 poin. Kedua indeks itu mencapai rekor tertinggi, sementara S&P sempat melampaui 7.400 untuk pertama kalinya.
Dow Jones Industrial Average ditutup sedikit berubah pada 49.609,04 poin. Indeks saham unggulan (blue-chip index) tertinggal dari dua indeks lainnya, terutama karena penurunan saham McDonald’s dan Salesforce yang termasuk dalam Dow 30.
Sepanjang pekan ini, S&P naik 2,3%, Nasdaq 4,5%, dan Dow 0,2%. Kalender ekonomi menjadi fokus perhatian pada Jumat (8/5/2026) dengan sorotan utama pada laporan pekerjaan bulan April.
Jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian sedikit meningkat 115 ribu pada bulan lalu, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, lebih baik dari perkiraan ekonom sebesar 65 ribu. Tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3%.
Meskipun laporan ini sangat dinantikan, laporan ini muncul pada saat pelaku pasar dan pengamat kebijakan moneter lebih fokus pada inflasi karena melonjaknya harga minyak yang dipicu oleh konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung. Analis mencatat bahwa data April menunjukkan adanya penurunan pertumbuhan upah akibat inflasi. (nov)


