Wall Street Akhiri Tren Penurunan

NEW YORK — Wall Street mengakhiri tren penurunan selama tiga hari pada perdagangan Rabu (19/8/2026), setelah penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan dorongan positif bagi pasar saham. Langkah Departemen Keuangan AS memperbesar pembelian kembali (buyback) obligasi tenor panjang menjadi katalis utama pergerakan pasar.

Indeks S&P 500 naik 0,2% dan ditutup di level 7.710,70 poin. Nasdaq Composite menguat 0,2% menjadi 26.331,09 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,2% ke posisi 53.463,11 poin.

Sentimen positif, terutama berasal dari pasar obligasi. Departemen Keuangan AS mengumumkan  setidaknya akan menggandakan skala operasi buyback untuk surat utang pemerintah tenor panjang mulai 9 September, dari sebelumnya US$2 miliar menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi. Program tersebut mencakup surat berharga dengan tenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun.

Pengumuman ini mendorong penurunan tajam yield Treasury tenor panjang. Yield obligasi 30 tahun sempat berada di sekitar 5,33% sebelum turun sekitar 7-10 basis poin, sementara yield Treasury 10 tahun juga bergerak lebih rendah. Penurunan yield membantu meredakan tekanan biaya pendanaan yang sebelumnya membebani pasar saham.

Departemen Keuangan AS menyatakan, peningkatan skala buyback ditujukan untuk memberikan dukungan likuiditas yang lebih besar pada surat utang tenor panjang, seiring kuatnya minat beli dan tingginya volume penawaran yang diterima dalam operasi pembelian kembali.

Di sisi lain, penguatan Wall Street tertahan oleh tekanan di sektor teknologi dan semikonduktor. Indeks Philadelphia Semiconductor  turun lebih dari 2%, menunjukkan bahwa investor masih berhati-hati terhadap valuasi saham chip dan prospek belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Salah satu pengecualian adalah Marvell Technology, yang menguat setelah mengumumkan kerja sama komersial dengan Google untuk mengembangkan berbagai produk semikonduktor khusus. Kesepakatan tersebut mencakup pengembangan chip yang berkaitan dengan ekosistem Tensor Processing Unit (TPU) Google. Google juga memperoleh hak untuk membeli hingga sekitar US$12,2 miliar saham Marvell melalui warrant.

Di sisi kebijakan moneter, investor juga mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) 28-29 Juli. Risalah menunjukkan banyak pejabat bank sentral AS menilai kenaikan suku bunga dapat diperlukan apabila inflasi tetap tinggi dan tidak menunjukkan penurunan yang cukup.

Pasar kini menghadapi dua sinyal yang berlawanan. Penurunan yield akibat langkah Departemen Keuangan memberikan ruang bagi saham untuk menguat, tetapi kekhawatiran terhadap inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed tetap menjadi faktor risiko bagi Wall Street dalam perdagangan berikutnya. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Berpotensi Uji Support 6.350–6.400

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi berpotensi...

BNPB Siapkan Empat Strategi Hadapi Kekeringan, 10 Kabupaten Jadi Wilayah dengan Kejadian Tertinggi

BRIEF.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiapkan...

Menkeu Suahasil Janji Perkuat Koordinasi KSSK hingga DPR

BRIEF.ID - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan akan melanjutkan...

OTT BPN Kabupaten Bogor, KPK Tidak Kunjung Tetapkan Status Tersangka

BRIEF.ID - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum menetapkan tersangka...