BRIEF.ID – Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Rano Karno akan berkantor di Kota Tua, Jakarta untuk mengawasi langsung proses revitalisasi kawasan Kota Tua, yang diharapkan akan memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global.
“Kami akan merevitalisasi Kota Tua. Harapannya, benchmark-nya adalah Kota Lama Semarang. Rencananya, Wagub akan bekerja di sana dan membangun Kota Tua lebih baik lagi,” kata Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Denny Aputra di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Kawasan Kota Tua yang terbentang di atas lahan seluas sekitar 334 hektare itu bukan kali pertama direvitalisasi. Revitalisasi pertama dilakukan pada 1971-1977, yang meliputi Taman Fatahillah, Kali Besar, Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik, Gedung Museum Sejarah Jakarta, Museum Bahari, dan gugus Pulau Onrust.
Revitalisasi kedua pada 2004-2006, yang mencakup peresmian Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia.
Revitalisasi ketiga dilakukan pada 2013, menyasar Gedung Kantor Pos Fatahillah dan beberapa gedung milik BUMN. Lalu, pada 2016-2018, revitalisasi meliputi Lokbin Taman Kota Intan dan Kali Besar sisi selatan.
Selanjutnya, revitalisasi keempat dilakukan pada 2022, yang mencakup Stasiun Beos dan penataan parkir park and ride.
Sebelumnya, Rano mengungkapkan tujuannya berkantor di Kota Tua, yaitu untuk mengawasi secara langsung proses revitalisasi kawasan tersebut. Ia pun mengaku sudah membentuk kelompok kerja (Pokja) sebagai sarana untuk berkoordinasi agar revitalisasi berjalan dengan baik.
Selama proses revitalisasi, Kota Tua akan dibagi menjadi tiga zona, yakni zona inti, zona pengembangan, dan zona penunjang.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, lanjut Rano, mengutamakan pembangunan area parkir dan pedagang kaki lima (PKL) dalam proses revitalisasi Kota Tua.
Revitalisasi Kota Tua diproyeksikan sebagai tempat wisata bagi kalangan masyarakat menengah, yang dapat memanfaatkan akses transportasi menggunakan KRL atau MRT.
Di sisi lain, Rano menyebutkan revitalisasi itu juga menjadi upaya mengembalikan identitas Jakarta sekaligus memperkuat posisinya sebagai kota global yang berakar pada sejarah dan budaya. (nov)


