BRIEF.ID – Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis point (bps) memicu reaksi pasar yang beragam.
Pasar valuta asing (valas), dan pasar obligasi melonjak, sebaliknya pasar saham, dan logam mulia merosot. Hal itu, terlihat dari pergerakan indeks dolar AS, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury, Bursa Wall Street, dan harga emas dunia.
Di pasar valas, indeks dolar AS AS melonjak sekitar 0,65% setelah keputusan The Fed menaikkan suku bunga acuan atau Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 bps menjadi 3,75%-4,00%.
Yield US Treasury tenor dua tahun naik 6 bps, karena pasar memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga berikutnya sebelum akhir tahun 2026. Sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 5,01%.
Di Bursa Wall Street, Dow Jones Index Average (DJIA) yang terdiri dari 30 saham unggulan ditutup anjlok 1,21% atau 631,21 poin ke level 51.461,90. Sedangkan indeks S&P 500 turun 0,45% di level 7.551,81.
Sementara itu, harga emas dunia berjangka turun 1,2%. Pasalnya, kenaikan imbal hasil US Treasury membuat investasi di emas menjadi kurang menguntungkan.
Di sektor pembiayaan, biaya pinjaman juga meningkat. Suku bunga hipotek tetap 30 tahun sempat melonjak menjadi 7,19%, naik sekitar 38 bps sejak pidato Gubernur The Fed, Kevin Warsh di Jackson Hole, Rabu (16/9/2026). Kenaikan tersebut lebih dari 1 poin persentase dibandingkan tahun lalu.
Seperti diketahui, kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps menjadi yang pertama dalam 3 tahun terakhir atau sejak Juli 2023. The Fed bahkan mengisyaratkan masih ada peluang satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun 2026.
Dalam Konperensi Pers seusai Rapat FOMC, Gubernur The Fed, Kevin Warsh, mengatakan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps merupakan bagian dari upaya menekan inflasi AS, yang dipicu oleh lonjakan harga energi dan barang.
Seperti diketahui, inflasi umum AS mencapai 3,4% (year on year/YoY) pada Agustus 2026, sementara target The Fed inflasi AS berada di kisaran 2%.
“Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat,” kata Warsh, seperti dikutip CNBC, Rabu (16/9/2026) malam waktu setempat atau Kamis (17/9/2026) dinihari WIB. (Jea)


