BRIEF.ID – Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings menilai pelemahan mata uang di Asia, termasuk Rupiah, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi korporasi. Dalam laporan yang dirilis pada Kamis (23/7/2026), S&P menyebut depresiasi mata uang ibarat “pedang bermata dua” karena dampaknya berbeda bagi setiap perusahaan, bergantung pada struktur pendapatan, biaya, dan kewajiban dalam valuta asing.
S&P menganalisis 69 perusahaan berperingkat di Indonesia, India, Jepang, dan Korea Selatan. Mayoritas dinilai mampu mengelola risiko pelemahan mata uang melalui pendapatan berbasis dolar AS, instrumen lindung nilai (hedging), atau kombinasi keduanya. Khusus di Indonesia, kurang dari 10% perusahaan yang diperingkat diperkirakan menghadapi dampak negatif yang signifikan akibat pelemahan rupiah.
Menurut S&P, perusahaan berorientasi ekspor berpotensi memperoleh manfaat dari depresiasi mata uang karena daya saing produknya meningkat di pasar internasional. Sebaliknya, perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku atau memiliki utang dalam valuta asing berisiko menghadapi kenaikan biaya operasional dan beban keuangan. Perusahaan dengan eksposur besar terhadap utang dolar AS tanpa perlindungan (hedging) yang memadai juga berpotensi mengalami tekanan terhadap arus kas dan profitabilitas apabila pelemahan rupiah berlanjut.
Di sisi lain, kondisi likuiditas domestik masih menunjukkan tren yang positif. Jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2026 mencapai Rp10.432,8 triliun, atau tumbuh 8,7% secara tahunan (year-on-year/YoY). Meskipun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 10,8% YoY pada Mei, ekspansi likuiditas tetap ditopang oleh pertumbuhan M1 sebesar 9,8% YoY dan uang kuasi sebesar 6,9% YoY.
Sementara itu, pertumbuhan kredit meningkat menjadi 12,67% YoY, mencerminkan aktivitas pembiayaan yang masih kuat. S&P menilai stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan sektor korporasi. Perusahaan dengan strategi lindung nilai, pendapatan dalam valuta asing, serta struktur utang yang sehat dinilai lebih siap menghadapi gejolak kurs dibandingkan emiten yang memiliki ketidaksesuaian (mismatch) antara pendapatan dan kewajiban dalam mata uang asing. (nov)


