IHSG Berpotensi Terkoreksi Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (24/7/2026), seiring meningkatnya tekanan kenaikan harga minyak dunia dan memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, IHSG diproyeksikan bergerak pada rentang support 6.200, pivot 6.300, dan resistance 6.380. Adapun saham yang direkomendasikan untuk dicermati pada perdagangan hari ini adalah EMAS, MIKA, AALI, TAPG, dan AMRT.

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah 19,16 poin atau 0,30% ke level 6.315,31 pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Secara teknikal, indikator Stochastic RSI membentuk pola death cross di area overbought, mengindikasikan mulai melemahnya momentum kenaikan. Sementara itu, histogram MACD masih berada di area positif, meski menunjukkan penyempitan yang menandakan momentum bullish mulai berkurang.

Phintraco Sekuritas menilai berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi sentimen negatif bagi pasar saham. Apabila IHSG menembus ke bawah level MA5 di sekitar 6.280, indeks berpotensi melanjutkan koreksi menuju area 6.200–6.250.

Dari sisi domestik, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2026 tercatat mencapai Rp10.432,8 triliun, tumbuh 8,7% secara tahunan (year-on-year/YoY). Meskipun masih mencatat ekspansi, laju pertumbuhannya melambat dibandingkan pertumbuhan 10,8% YoY pada Mei 2026.

Pertumbuhan likuiditas tetap ditopang oleh kenaikan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8% YoY serta pertumbuhan uang kuasi sebesar 6,9% YoY. Di sisi lain, pertumbuhan kredit justru menunjukkan akselerasi menjadi 12,67% YoY pada Juni 2026, mencerminkan aktivitas pembiayaan yang masih kuat.

Sementara itu, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mengingatkan bahwa pelemahan mata uang merupakan “pedang bermata dua” bagi korporasi di Asia, termasuk Indonesia. Perusahaan berorientasi ekspor berpotensi memperoleh manfaat dari depresiasi mata uang, namun emiten yang bergantung pada impor dan tidak mampu sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen akan menghadapi tekanan terhadap profitabilitas.

S&P juga mencatat terdapat sejumlah kecil emiten di Indonesia yang lebih rentan terhadap depresiasi rupiah karena memiliki ketidaksesuaian eksposur valuta asing antara pendapatan dan kewajiban pembiayaan. Secara historis, depresiasi mata uang yang tajam juga dapat menurunkan kemampuan emiten dengan peringkat spekulatif dalam memenuhi kewajiban keuangannya.

Dengan kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap bersikap hati-hati, sementara arah pergerakan IHSG pada perdagangan akhir pekan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak, kondisi geopolitik global, serta pergerakan nilai tukar Rupiah. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Harlah ke-28 PKB, Ijtima Ulama Serahkan Rekomendasi Kepada Presiden Prabowo

BRIEF.ID – Peringatan Hari Lahir (Harlah) Partai Kebangkitan Bangsa...

Presiden Prabowo Percepat Pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia  

BRIEF.ID – Presiden Prabowo Subianto meminta percepatan pembentukan Pusat...

S&P:Pelemahan Nilai Tukar Rupiah Jadi Tantangan bagi Korporasi Asia

BRIEF.ID – Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings menilai pelemahan...

Goldman Sachs dan JPMorgan Luncurkan Produk Perdagangan Utang Berbasis AI

BRIEF.ID – Dua bank investasi terbesar di Amerika Serikat...