BRIEF.ID – Pada beberapa pekan terakhir, kita menyaksikan drama memilukan di lantai bursa di berbagai negara, khususnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Keperkasaan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil dijatuhkan oleh beragam katalis negatif dan sejumlah rumors, yang tampaknya sengaja diviralkan untuk memperburuk sentimen berinvestasi.
Perang Amerika Serikat (AS) vs Iran yang entah kapan akan berakhir, mendongkrak harga minyak mentah tetap tinggi, nilai tukar Dolar AS juga tetap kuat, dan Rupiah jungkir balik.
Ancaman penurunan outlook utang Pemerintah Indonesia dari Standard & Poor, outlook negatif dari Moody’s untuk surat utang yang diterbitkan Danantara, serta ancaman MSCI dan Footsie Russels adalah multiple threats yang berkontribusi signifikan terhadap penurunan IHSG, yang sempat menyentuh level tertinggi di angka 9.174. Sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, posisi IHSG sangat rentan.
IHSG jatuh 35,2% dari level tertingginya dan terperosok 31,7% sejak awal tahun. Pada Rabu (3/6/2026), IHSG jatuh 5,4% akibat merebaknya rumors dan hoaks mengenai Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dikabarkan telah men-downgrade pasar saham Indonesia ke frontier market dari emerging market.
“Ini paling menyedihkan di samping adanya gaungan governance trust issue, terutama mengenai pengelolaan APBN dan beban fiskal,” demikian dikutip dari D’Origin Interactive News, Kamis (4/6/2026).
Level Paling Rendah
Selama kurun waktu tahun 2025, IHSG pernah terpuruk hingga level paling rendah di angka 5.882 akibat perang tarif yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump. Namun IHSG kemudian menguat hampir 60% sampai mencapai level tertinggi 9.174, pada Januari 2026. Pertanyaannya, apakah IHSG mampu menguat kembali setelah semua berita, rumors dan hoaks terburuk muncul?
Pertanyaan berikutnya apa dosa Indonesia sampai IHSG dan nilai tukar Rupiah terpuruk? Apakah karena fiscal credibility hancur? Apakah karena Danantara yang berambsi besar, tapi governance lemah? Apakah karena spending spree tanpa prioritas yang jelas? Ataukah perang Iran yang tidak selesai saja?
Semua pertanyaan di atas sebetulnya sudah tercermin pada kondisi IHSG dan Rupiah saat ini.
Pertanyaan terakhir adalah kapan IHSG akan menyentuh bottom level? Jawaban sederhana, terutama untuk value investors adalah lihat kembali tulisan di atas dan analisa kembali posisi IHSG yang kapitalisasi pasarnya sudah raib hampir Rp 6 triliun dan rasio PE saat ini berada di bawah 15X vs rata-rata pasar saham di 47 negara di kisaran 24X dan kapitalisasi pasar IHSG terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia (Buffet Indicator) pada 41% vs pasar saham dunia 142% terhadap PDB dunia.
Dengan kondisi sekarang, apakah IHSG murah? jawabannya adalah iya, namun banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah untuk mengembalikan kepercayaan investor dalam dan luar negeri.
Rupiah dipasar offshore pada Kamis (4/6/2026), pukul 07.45 WIB berada di kisaran 17.973 per Dolar AS.
Harga emas berada di angka US$ 4.448 per troy ons. Harga minyak mentah Brent US$ 97,13 per barel, harga batu bara untuk pengiriman bulan Juli 148 dolar per metrik ton atau naik 2,21%). Harga nikel turun 0,2% ke angka US$ 18.775 per ton, minyak sawit (CPO) 4.680 ringgit Malaysia per ton.
IHSG diprediksi akan bergerak dari support flow 5.760-5.800-5.834 dan resistance flow 6.078-6.161. Saham-saham yang patut dicermati adalah CUAN 660-900 (bow trading buy); BUMI 145-189 (buy on weakness/bow); DSSA 580-1.020; BRPT 1.680-2.200; ANTM 2.500-3.200; MEDC 1.230-1.440; BMRI 3900-4300; BBRI 2860-3220; PSAB 480-900 (PER under 1x 2026 EPS). (nov)


