BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah tetap perkasa di bawah level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (17/7/2026).
Hingga pukul 12:30 WIB, nilai tukar rupiah terpantau berada di level Rp17.941 per dolar AS, menguat 45 poin atau 0,25% dibandingkan level sebelumnya Rp17.986.
Sebelumnya pada awal perdagangan hari ini, kurs rupiah dibuka menguat tipis 0,03% atau 6 poin menjadi Rp17.980 per dolar AS dibandingkan level Rp17.986 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (16/7/2026).
Sementara di pasar spot nilai tukar rupiah juga bergerak menguat ke level Rp17.969 per dolar AS, setelah sempat dibuka melemah di level Rp18.031 pada perdagangan hari ini.
Hal itu, membuat rupiah menjadi mata uang Asia paling perkasa disusul Peso Filipina pada perdagangan hari ini. Sebaliknya, Baht Thailand, Ringgit malaysia, Dolar Taiwan, Yen Jepang, Yuan Tiongkok, hingga Dolar Dingapura, melemah terhadap dolar AS.
Penguatan rupiah ditopang ekspetasi pelaku pasar terhadap Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) pada pekan depan, yang diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate dari level 5,75% saat ini.
Selain itu, intervensi pemerintah di pasar Surat Utang Negara (SUN) turun memperkuat kurs rupiah terhadap dolar AS, bahkan mampu menepis tekanan lonjakan harga minyak dunia.
Pada perdagangan hari ini, harga minyak dunia jenis Brent yang menajdi acuan naik 1,01% menjadi US$85,08 per barel, seiring ketidakpastian konflik Timur Tengah antara AS dan Iran.
Meski demikian, penguatan rupiah dinilai masih rapuh, dan berpotensi mengalami tekanan, seiring perkembangan konflik Timur Tengah. Untuk perdagangan hari ini, kurs rupiah diprediksi menguat terbatas di kisaran level Rp17.950 per dolar AS hingga Rp18.000 per dolar AS. (Jea)


