BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (18/8/2026), imbas harga minyak dunia melonjak dalam 3 hari terakhir.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka melemah 0,24% atau 43 poin menjadi Rp17.841 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.798 per dolar AS.
Hingga pukul 11:20 WIB, kurs rupiah terpantau melanjutkan pelemahan hingga 0,34% atau 62 poin ke level Rp17.860 per dolar AS dibandingkan Rp17.798 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (14/8/2028).
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,18% ke level Rp17.857 per dolar AS, dan terus tertekan hingga menyentuh level Rp17.872 per dolar AS.
Pelemahan rupiah merupakan imbas dari lonjakan harga minyak dunia sepanjang akhir pekan dan libur HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Selama tiga hari berturut-turut, harga minyak dunia terus melonjak hingga menyentuh level US$91,15 per barel.
Lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh menurunnya ekspetasi pelaku pasar terhadap prospek perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.
AS dann Iran masih berselisih dalam berbagai isu, termasuk mengenai pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS imbas kenaikan harga minyak dunia, antara lain Peso Filipina Baht Thailand, Yuan Tiongkok, Dolar Singapura, dan Yen Jepang.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari sentimen di dalam negeri, seiring perkiraan Bank Indonesia akan tetap mempertahankan suku bunga acuan, di level 5,75%.
Selama dua hari, yakni 18-19 Agustus 2026, digelar Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI), yang antara lain akan memutuskan tingkat suku bunga acua atau BI-Rate.
Terkait dengan itu, pergerakan rupiah hari ini diprediksi cenderung melemah di kisaran Rp17.850 per dolar AS hingga Rp18.050 per dolar AS. (Jea)


