BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah masih tertekan pada perdagangan akhir pekan, Jumat (24/4/2026), imbas kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah dibuka menguat tipis 0,03% atau 6 poin menjadi Rp17.280 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.286 per dolar AS.Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah menguat terbatas 0,09% menjadi Rp17.279 per dolar AS.
Meski demikian, penguatan rupiah tak berlangsung lama, bahkan berbalik arah ke zona merah. Hingga pukul 11:00 WIB, nilai tukar rupiah terpantau berada di level Rp17.293 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, seiring perebutan kendali Selat Hormuz oleh Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak seluruh kapal, termasuk kapal kecil, yang mencoba keluar dari perairan Selat Hormuz.
Menurut Presiden Trump, blokade Selat Hormuz akan berlaku sampai kesepakatan tercapai. Sementara Iran menegaskan tidak akan ambil bagian dalam negosiasi sampai blokade AS dicabut.
Perkembangan terbaru konflik Timur Tengah ini, memicu lonjakan harga minyak dunia. Pada Kamis (23/4/2026), harga minyak jenis brent yang menjadi acuan melonjak 3,1% ke US$105,07 per barel.
Sementara indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama masih menguat terbatas di kisaran level 98, sehingga menekan mata uang lainnya, termasuk rupiah.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pelemahan rupiah justru dipengaruhi sentimen dalam negeri, seiring kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Sebelum konflik Timur Tengah terjadi, tekanan terhadap rupiah sudah muncul dipicu penurunan outlook dari sejumlah lembaga investasi dan pemeringkat kredit global.
Hal itu, didasarkan pada penilaian terhadap perumusan prediktabilitas dalam perumusan kebijakan fiskal yang dianggap menurun, dan berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta mengindikasikan pelemahan tata kelola.
Bank Dunia, juga telah mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7%, karena dianggap paling terdampak konflik Timur Tengah dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Lagi-lagi penyebabnya adalah kebijakan fiskal Indonesia yang dinilai lemah, dan berimbas pada defisit anggaran, yang semakin lebar seiring kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah.
Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, penting bagi Indonesia menegaskan kembali disiplin fiskalnya, dan bagaimana kebijakan ekonomi baik makro maupun moneter berjalan rapi.
“Investor akan menilai apakah pemerintah bisa memberi sinyal yang tegas bahwa defisit tetap dijaga, fiskal tetap disiplin, dan komunikasi kebijakan berjalan rapi, serta stabilitas rupiah tetap terjaga,” kata Josua.
Hal ini penting, karena dapat mengembalikan keyakinan investor terutama asing, dan menurunkan premi risiko terhadap aset domestik. Ketidakyakinan investor terhadap kondisi fiskal Indonesia terlihat dari tingginya arus modal keluar (capital outflow), baik di pasar saham maupun pasar surat utang.
Tekanan terhadap rupiah hari ini berlanjut seiring aksi jual di pasar saham maupun pasar surat utang, ditandai dengan kejatuhan IHSG dan melonjaknya imbal hasil atau yield obligasi di hampir semua tenor.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak melemah di kisaran level Rp17.200 per dolar AS hingga Rp17.300 per dolar AS. (jea)


