IHSG Terhempas ke Level 7.200, Saham BBCA Anjlok Hingga 5%

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terhempas ke level psikologis 7.200 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (24/4/2026).

Saham-saham unggulan dan berkapitalisasi besar mengalami tekanan jual hingga harganya anjlok, antara lain saham PT Bank Central Asia Tbk yang harganya turun hingga 5%.

Pada awal sesi I perdagangan saham hari ini, IHSG dibuka melemah tipis 0,01% atau 0,53 poin ke level 7.378. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,10% atau 1,51 poin ke posisi 715,75.

IHSG terus melanjutkan pelemahan, hingga meninggalkan level psikologis 7.300. Pada pukul 11:20 Waktu JATS, IHSG terpantau melemah 2,40% atau 176,04 poin di level 7.201.

Sepanjang 2 jam 15 menit perdagangan saham berlangsung, IHSG terus bergerak di zona merah, sempat menyentuh level tertinggi di 7.383, dan level terendah di 7.171.

Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 620 saham turun harga, 88 saham naik harga, dan 108 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.

Adapun volume saham yang ditransaksikan mencapai 26,307 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.563.600 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp12,465 triliun.

Investor terus melancarkan aksi jual, termasuk terhadap saham-saham berkapitalisasi besar. Imbasnya, harga saham anjok, meskipun sejumlah emiten (perusahaan tercatat) mengumumkan rencana pembagian dividen.

Harga saham 4 bank besar, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), anjlok antara 1% hingga 4%.

Harga BBCA terpantau anjlok 5,45% atau Rp350 menjadi Rp6.075 per lembar, BMRI turun 1,94% atau Rp90 menjadi Rp4.540 per saham, BBRI terkoreksi 2,22% atau Rp70 menjadi Rp3.090 per lembar, dan BBNI terpangkas 3,36% atau Rp130 menjadi Rp3.740 per saham.

Pelemahan IHSG dipengaruhi faktor arus modal keluar (capital outflow) yang tinggi, seiring kekhawatiran investor terutama asing terhadap kondisi fiskal Indonesia. Pelemahan rupiah yang menyentuh level Rp17.300, terlemah sepanjang sejarah, menjadi sentimen negatif bagi IHSG.

Sementara sentimen dari luar negeri datang dari konflik Timur Tengah yang memanas seiring perebutan kendali terhadap Selat Hormuz oleh Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Hal itu, telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Pada Kamis (23/4/2026), harga minyak jenis brent yang menjadi acuan melonjak 3,1% ke US$105,07 per barel.

Lonjakan harga minyak dunia, membuat investor semakin khawator dengan kondisi fiskal Indonesia, mengingat defisit anggaran dipastikan bakal membengkak untuk menanggulangi subsidi energi, dan mengendalikan inflasi. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Rupiah Masih Tertekan di Akhir Pekan Imbas Kekhawatiran Kondisi Fiskal Indonesia

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah masih tertekan pada...

Harga Emas Antam Hari Ini Stagnan di Rp2.805.000 per Gram

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...

Menhaj: Proses Keberangkatan Jemaah Haji Tertata Baik

BRIEF.ID – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Moch. Irfan...

Perdagangan Akhir Pekan, IHSG Diperkirakan Lanjutkan Pelemahan  

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih...