BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) ambruk setelah terpangkas 163 poin atau 2,16% ke level 7.378, pada Kamis (23/4/2026).
Sementara itu, bursa Asia melemah seiring langkah tegas Iran menangkap dua kapal di Selat Hormuz, yang memicu kenaikan harga minyak. Nilai tukar Rupiah juga ambruk 0,61% ke Rp 17.286 per Dolar AS di tengah ketidakpastian masa depan gencatan senjata AS-Iran.
Dilaporkan bahwa sebanyak 533,7 juta lot saham tercatat sebagai volume perdagangan. Volume perdagangan tersebut membukukan nilai transaksi Rp20,09 triliun. Saham top gainers LQ45, yaitu MEDC, BBTN, JPFA, BBNI, INKP, dan AKRA. Sedangkan saham top losers LQ45, terdiri atas DSSA, BREN, SCMA, SMGR, UNVR, AMMN, dan MBMA.
Sektor konsumer primer paling terpuruk, drop -3,43%. Saham sektor ini yang melemah AMRT sebesar 2,39%, RALS -2,17%, LPPF -1,52%, ERAA -0,98%, MAPI -0,38%.
Bursa Asia Melemah
Bursa Asia mengalami pelemahan cukup signifikan pada perdagangan Kamis (23/4/2026) menyusul lonjakan harga minyak akibat masalah pengiriman yang muncul dari kawasan Teluk. Indeks saham MSCI Asia di luar Jepang turun 0,5%.
Sebelumnya, Iran menangkap dua kapal kontainer yang berusaha keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz, memperketat cengkeramannya pada jalur air penting itu. Sementara investor mengamati apakah gencatan senjata yang rapuh di Timur Tengah akan bertahan.
“Pasar terlihat sangat tegang di sini. Kita masih berada di zona tanpa perang, tanpa perdamaian, dan itu berarti bahkan ketakutan akan eskalasi yang belum terverifikasi dapat mengguncang harga minyak dan menurunkan aset berisiko,” kata Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo.
Disebutkan, kenaikan harga minyak, bahkan tanpa pemicu yang jelas, merupakan pertanda bahwa investor tetap sangat sensitif terhadap risiko geopolitik.”
Imbal hasil obligasi pemerintah AS dua tahun naik 2 basis poin menjadi 3,8106%, setelah naik tipis 1 basis poin pada hari Rabu. Imbal hasil obligasi 10 tahun naik 3 bps menjadi 4,3214%, setelah hampir tidak berubah semalam.
Aktivitas manufaktur Jepang meningkat dengan laju tercepat dalam empat tahun pada bulan April, menurut Indeks Manajer Pembelian (PMI) kilat S&P Global , karena perusahaan meningkatkan produksi di tengah kekhawatiran pasokan yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah.
Ekonomi Korsel tumbuh lebih dari yang diperkirakan dalam tiga bulan pertama tahun ini, mencatat pertumbuhan tercepat sejak kuartal ketiga tahun 2020.
Pertumbuhan sebesar 1,7% pada Januari 2026 hingga Maret 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya melampaui perkiraan Reuters sebesar 1,0% dan pulih dari kontraksi 0,2% pada kuartal sebelumnya.
Indeks Saham Asia menunjukkan, Nikkei225 (Jepang) ambruk 0,75% ke 59.140; Topix (Jepang) merosot 0,76% ke 3.716; Indeks Shanghai (Tiongkok) turun 0,32% ke 4.093; Indeks Shenzhen Component (Tiongkok) menurun 0,88% ke 15.043; CSI 300 (Tiongkok) -0,28% ke 4.786; Hang Seng (Hong Kong) -0,95% ke 25.915; Indeks Kospi (Korea Selatanl) naik 0,90% ke 6.475; Taiex (Taiwan) -0,43% ke 37.714; dan S&P/ASX200 (Australia) -0,57% ke 8.793.
Adapun mata uang Asia menunjukkan, Yen turun 0,12% menjadi 159,67 per Dolar AS; SGD melemah 0,04% menjadi 1,2761 per Dolar AS; AUD down 0,07% ke posisi 0,7155 per Dolar AS.
Dikutip dari D’ORIGIN INTERACTIVE NEWS, Rupiah drop 0,61% menjadi 17.286 per Dolar AS; Rupee drop 0,30% ke 94,0813 per Dolar AS; Yuan turun 0,08% ke 6,8339 per Dolar AS; Ringgit merosot 0,25% ke 3,9630 per Dolar AS; dan Baht merosot 0,64% ke 32,4360 per Dolar AS.
Bursa Eropa
Saham-saham Eropa diperdagangkan lebih rendah pada hari Kamis (23/4) akibat sentimen pasar regional tetap suram dan harga minyak sedikit naik.
Indeks acuan saham Eropa, Stoxx 600 turun 0,1% dengan sebagian besar bursa utama di kawasan itu berada di wilayah negatif dan sektor-sektor menunjukkan kinerja yang beragam.
Indeks CAC 40 Prancis naik 0,57% dan Indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,41%. Di bursa saham Jerman, Indeks DAX juga turun 0,13% dan Indeks FTSE MIB Italia melorot tipis 0,02%.
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, Fatih Birol memperingatkan adanya “hari-hari sulit” di masa mendatang bagi pasokan bahan bakar jet Eropa sebagai akibat dari konflik Iran. Birol mengatakan negara-negara mungkin perlu meninjau mitra dagang energi dan rute perdagangan jika Selat Hormuz tetap tertutup. (nov)


