BRIEF.ID – Imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan beragam pada Senin (8/6/2026), di mana imbal hasil tenor dua tahun mundur dari puncak 15 bulan yang dicapai pada Jumat (5/6/2026) setelah laporan ketenagakerjaan melampaui ekspektasi.
Data ketenagakerjaan yang dirilis Jumat (5/6/2026) memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun 2026. Para pedagang di pasar futures dana federal kini memperkirakan probabilitas sebesar 68% untuk kenaikan suku bunga pada Desember.
Kekhawatiran sebelumnya mengenai melemahnya kondisi ketenagakerjaan sempat dipandang sebagai faktor yang membatasi potensi kenaikan suku bunga, meskipun inflasi tetap berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2%.
Harga minyak juga naik akibat gangguan pasokan yang berkaitan dengan perang Iran, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa inflasi bisa semakin mengakar dalam harga konsumen.
Kalangan analis pada umumnya memandang kenaikan suku bunga The Fed sebagai hal yang tidak mungkin terjadi kecuali ekspektasi inflasi meningkat lebih jauh dan inflasi tertanam dalam harga konsumen inti.
Data inflasi harga konsumen yang dijadwalkan rilis pada hari Rabu diproyeksikan menunjukkan bahwa harga konsumen inti mengalami moderasi secara bulanan pada bulan Mei menjadi 0,3% dari 0,4% pada bulan April. Tingkat tahunan diperkirakan telah meningkat menjadi 2,9% dari 2,8% dalam periode yang sama. (Investing.com/nov)


