BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah masih melanjutkan tren melemah di saat pemerintah menjadwalkan kembali melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada pekan ini.
Pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah tipis 0,03%di level Rp17.210 per dolar AS. Pelemahan rupiah terus berlanjut, dan berada di level Rp17.228 per dolar AS pada aksir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (24/4/2026), pukul 12:00 WIB.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 0,81% ke level 99,32, seiring kembali naiknya harga minyak dunia akibat kebuntuan perundingan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Harga minyak jenis Brent melonjak hingga 2,3% ke level US$107,73 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$96 per barel.
Meski demikian, tekanan dolar tidak terjadi pada mayoritas mata uang Asia lainnya, yang dibuka menguat pada perdagangan hari ini, antara lain Dolar Taiwan (+0,3%), Ringgit Malaysia I(+0,29%), Won Korea Selatan (+0,26%), Baht Thailand (+0,19%), Peso Filipina (+0,11%), Yuan Tiongkok (+0,04%).
Pelemahan rupiah juga dipengaruhi sentimen dalam negeri, terutama sorotan terhadap kondisi fiskal dan neraca perdagangan, seiring tekanan eksternal akibat konflik Timur Tengah yang masih berlangsung, dan mengancam krisis energi global.
Investor akan mencermati rilis data ekspor-impor periode yang akan dirilis pada 4 Mei 2026 untuk mengukur fundamental ekonomi Indonesia dari sisi keseimbangan eksternal atau defisit neraca berjalan.
Selain itu, investor juga mencermati kondisi fiskal Indonesia, seiring potensi pelebaran defisit anggaran akibat pembengkakan subsidi energi, dan minimnya arus modal asing.
Pasar SUN terus mengalami tekanan aksi jual sepanjang pekan lalu. Meski demikian, pemerintah dijadwalkan kembali melelang SUN pada pekan ini, dengan target indikatif Rp36 triliun dan potensi penyerapan hingga Rp54 triliun atau 150% dari target awal.
Pemerintah menawarkan 9 seri SUN, terdiri dari tiga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) bertenor pendek dan enam obligasi fixed rate (FR) dengan jatuh tempo hingga 2064.
Instrumen ini diterbitkan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan APBN 2026, dengan sistem lelang terbuka menggunakan metode multiple price melalui Bank Indonesia.
Namun, tingkat kupon obligasi panjang yang ditawarkan semakin mahal dan berada di kisaran 6,5% hingga di atas 7%. Hal ini mencerminkan adanya premi risiko yang meningkat di pasar domestik kala ketidakpastian geopolitik masih tinggi.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi masih bergerak melemah terbatas, di kisaran level Rp17.200 per dolar AS hingga Rp17.250 per dolar AS. (jea)


