BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah kembali menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, imbas kenaikan harga minyak dunia.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah hari ini, Rabu (8/7/2026), dibuka melemah tipis 0,02% atau 4 poin menjadi Rp17.984 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.980 per dolar AS.
Hingga pukul 11:20 WIB, nilai tukar rupiah Jisdor terpantau berada di level Rp18.004 per dolar AS, melemah 0,13% atau 24 poin dibandingkan Rp17.980 pada penutupan perdagangan Selasa (7/7/2026).
Sepanjang sesi I perdagangan, Rupiah terus tertekan, seiring perkembangan terbaru konflik Timur Tengah, yang membuat harga minyak dunia kembali melonjak.
Seperti dilansir Bloomberg News, Selasa (7/7/2027), Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) mencabut pelonggaran atas sanksi terhadap minyak Iran, sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Dikabarkan ada 3 kapal yang diserang militer Iran. Pertama, kapal Al Rekayyat yang mengangkut gas alam. Kedua, kapal tanker minyak milik Arab Saudi. Ketiga, kapal tanker yang belum diindentifikasi.
Dengan kejadian tersebut, minyak asal Iran kembali sulit masuk ke pasar internasional. Perkembangan ini membuat harga minyak kembali melonjak. Pada perdagangan Selasa (7/7/2026), harga minyak dunia jenis Brent melonjak 5,8% ke level US$76,15 per barel.
Selain itu, pelemahan rupiah juga dipengaruhi penguatan indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia sebesar 0,11% ke level 101,13 pada sesi pagi perdagangan hari ini.
Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Indonesia, setelah APBN mengalami defisit 0,76% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per akhir Juni 2026.
Dalam rapat kerja bersama DPR pada Selasa (7/7/2026), Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan defisit APBN hingga akhir Juni 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap PDB (vs. 1H25: defisit 0,84% terhadap PDB).
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah, mengatakan pemerintah memperkirakan defisit APBN selama 2026 akan mencapai Rp734,3 triliun atau setara 2,85% terhadap PDB, melebar dibandingkan target defisit APBN 2026 di level 2,68% terhadap PDB maupun realisasi defisit APBN 2025 yang telah diaudit di level 2,81% terhadap PDB.
Terkait dengan itu, nilai tukar rupiah hari ini diprediksi rawan koreksi, dan diprediksi cenderung melemah terbatas, bergerak di kisaran level Rp17.950 per dolar AS dan Rp18.050 per dolar AS. (jea)


