AS Tetaplah Tim Sepak Bola Kelas Bawah

BRIEF.ID – Tersingkirnya Timnas Amerika Serikat (AS) dari pertarungan Piala Dunia 2026 kembali memunculkan pertanyaan lama mengenai arah perkembangan sepak bola di negara itu.

Kekalahan telak 1-4 dari Belgia di babak 16 besar kian memperpanjang penantian tim berjuluk USMNT untuk benar-benar bersaing di level elite dunia, meski negara itu telah berinvestasi miliaran dolar AS dalam pengembangan sepak bola selama lebih dari dua dekade.

Sejak mencapai perempat final Piala Dunia 2002, AS belum mampu melampaui pencapaian itu. Generasi pemain terus berganti, pelatih silih berganti datang dan pergi, sementara kompetisi domestik melalui Major League Soccer berkembang pesat. Namun, hasil di panggung Piala Dunia 2026 tetap menunjukkan pola yang sama: gagal menembus jajaran tim terbaik dunia.

“Kami ingin bisa bersaing dengan beberapa tim terbaik di dunia dan kami masih harus melangkah lebih jauh,” kata bintang sepak bola AS, Christian Pulisic usai kekalahan 4-1 dari Belgia di babak 16 besar pada Senin (6/7/2026) malam.

Setelah mencapai semifinal Piala Dunia pertama pada tahun 1930, AS bahkan tidak lolos kualifikasi antara tahun 1950 dan 1990. Sejak itu, Amerika Serikat tersingkir di babak 16 besar pada tahun 1994, 2010, 2014, 2022 dan tahun ini. Amerika Serikat gagal melaju melewati babak grup pada tahun 1990, 1998 dan 2006, serta gagal dalam kualifikasi tahun 2018. AS tetaplah tim sepak bola kelas bawah.

“Tidak seperti Anda berada di dalam roket dan Anda langsung berkembang dan meningkat. … Perkembangannya tidak linear,” kata pelatih Timnas AS, Mauricio Pochettino.

Sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko, ekspektasi publik terhadap USMNT sangat tinggi. Dukungan penuh suporter, keuntungan bermain di kandang sendiri, serta kehadiran sejumlah pemain yang merumput di liga-liga top Eropa sempat memunculkan optimisme bahwa AS mampu mencatat prestasi terbaiknya dalam beberapa dekade terakhir.

Harapan itu akhirnya pupus setelah Belgia tampil lebih efektif dan dominan. Kekalahan itu memperlihatkan masih adanya kesenjangan kualitas, terutama dalam penyelesaian akhir, pengambilan keputusan di bawah tekanan, dan konsistensi permainan menghadapi tim-tim elite.

Hasil ini memicu kritik terhadap sistem pembinaan pemain muda dan arah pengembangan sepak bola nasional. Banyak pengamat menilai Amerika Serikat memiliki sumber daya, fasilitas, dan kekuatan finansial yang memadai, tetapi belum berhasil membangun budaya sepak bola yang mampu menghasilkan tim nasional dengan daya saing setara negara-negara papan atas.

Seiring Piala Dunia 2026 berakhir lebih cepat bagi tuan rumah, federasi sepak bola AS  kembali dihadapkan pada pekerjaan rumah besar. Tanpa evaluasi menyeluruh dan pembenahan yang berkelanjutan, kisah lama tentang potensi besar yang belum mampu diwujudkan menjadi prestasi tampaknya akan terus berulang pada turnamen-turnamen mendatang. (Associated Press/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Diperkirakan Berpeluang Lanjutkan Penguatan

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan...

Kedai Kopi di Kairo Mendadak Hening Saat Mesir Disingkirkan Argentina

BRIEF.ID – Suasana penuh harapan menyelimuti berbagai kedai kopi...

Messi Pimpin Argentina Kalahkan Mesir 3-2, Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026

BRIEF.ID – Tim Nasional (Timnas) Argentina memastikan tempat di...

Messi Cetak Delapan Gol, Pimpin Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026

BRIEF.ID – Kapten Timnas Argentina, Lionel Messi menunjukkan kelasnya...