BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Senin (22/6/2026), akibat tertekan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat di level 100,89.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Interbank Dollar Spot Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah ditutup melemah di level Rp17.845 per dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan level sebelumnya Rp17.804 per dolar AS.
Sementara rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,22% ke level Rp 17.843 per dolar AS dibandingkan Rp17.804 per dolar AS pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Pelemahan rupiah mengikuti pergerakan mayoritas mata uang Asia yang juga ditutup melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, antara lain Won Korea Selatan (-0,57%), dan Peso Filipina (-0,56%).
Selanjutnya Rupee India (-0,41%), Ringgit Malaysia (-0,37%, Yen Jepang (-0,3%), Dolar Singapura (-0,19%), Dolar Taiwan (0,17%), dan Yuan Tiongkok (-0,14%).
Perkembangan konflik Timur Tengah antara AS dan Iran, yang tak kunjung mencapai kesepakatan perdamaian membuat harga minyak dan indeks dolar AS kembali melonjak.
Sebaliknya, bursa saham, pasar obligasi, hingga pasar komoditas logam mulia mengalami tekanan karena kekhawatiran investor terhadap lonjakan inflasi di paruh kedua tahun ini.
Presiden AS, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman serangan ke Iran, setelah kedua negara tak mencapai kesepakatan perdamaian pada akhir pekan lalu.
Sebelumnya, pejabat tinggi AS dan Iran dikabarkan akan menandatangani kesepakatan perdamaian di Swiss pada 19 Juni 2026, seusai perhelatan KTT G7 Prancis.
Ketidakpastian berakhirnya konflik Timur tengah, membuat investor khawatir lonjakan harga minyak dunia akan memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BMM) yang berujung pada kenaikan inflasi, sehingga bank-bank sentral akan memperketat kebijakan moneter. (jea)


