BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Selasa (8/9/2026), imbas meningkatnya kekhawatiran terhadap data inflasi AS.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah berada di level Rp17.630 per dolar AS pada akhir sesi I perdagangan hari ini.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah Jisdor dibuka melemah tipis 0,03% atau 5 poin ke level Rp17.645 per dolar AS dibandingkan Rp17.640 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (7/9/2026).
Penguatan rupiah merupakan imbas dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap data inflasi AS, yang akan dirilis pekan ini. Pasalnya, data inflasi AS akan menentukan arah suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).
Jika data inflasi AS belum menunjukkan sinyal melambat ke arah target 2%, maka The Fed diperkirakan tak akan ragu menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR), dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada pekan depan.
Hal itu, membuat eskspetasi pelaku pasar terhadap kemungkinan FOMC The Fed menaikkan FFR semakin meningkat. Mengutip CME FedWatch Tools, peluang kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4% dalam rapat September saat ini ada di 60,4%.
Hal itu, membuat investor memilih mengalikan portofolio investasi ke pasar keuangan emerging market, sehingga indeks dolar AS melemah terhadap 6 mata uang utama dunia, yakni di level 98,74.
Selain rupiah, sejumlah mata uang Asia juga menguat terhadap dolar AS, antara lain Won Korea Selatan (+0,74%), Yen Jepang (+0,72%), dan Dolar Taiwan (+0,23%).
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi menguat terbatas di kisaran level Rp17.600 per dolar AS hingga Rp17.650 per dolar AS. (Jea)


