BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ambruk pada perdagangan hari ini, Kamis (23/4/2026), hingga menembus level psikologis Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah dibuka melemah 0,63% atau108 poin menjadi Rp17.289 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.181 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,32% menjadi Rp17.230 per dolar AS. Pelemahan rupiah terus berlanjut hingga terpantau menembus level psikologis baru di Rp17.305 per dolar AS, pada pukul 09:40 WIB.
Pelemahan rupiah terjadi seiring berakhirnya perundingan damai AS-Iran tanpa kesepakatan, dan ketidakpastian sikap Iran terkait tawaran AS untuk perpanjangan gencatan senjata.
Meskipun Presiden AS, Donald Trump, telah menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu yang ditentukan, pelaku pasar masih diliputi keraguan.
Pasalnya, Presiden Trump mensyaratkan Iran harus memberikan proposal damai terbaru, namun Iran menegaskan belum ingin melanjutkan perundingan damai dalam waktu dekat.
Seperti diketahui, AS-Iran menyepakati gencatan senjata selama 2 minggu, mulai 7-22 April 2026. Gencatan senjata diberlakukan agar kedua pihak konsen dengan perundingan damai untuk mengakhiri konflik Timur Tengah.
Meski demikian, hingga batas waktu gencatan senjata berakhir, AS-Iran belum mencapai kesepakatan perundingan damai, yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, mulai Selasa (22/4/2026).
Iran juga telah memblokade Selat Hormuz, seperti sebelum kesepakatan gencatan senjata. Sedangkan AS memblokade kapal yang ke luar dan masuk Iran.
Perkembangan terbaru ini, membuat harga minyak mentah kembali naik ke level US$100 per barel. Pada perdagangan Rabu (22/4/2026), harga minyak jenis brent yang menjadi acuan melonjak 3,48% ke US$101,91 per barel.
Lonjakan harga minyak dunia, membuat pasar keuangan kembali bergejolak. Tak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS pada sesi pagi perdagangan hari ini.
Adapun mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS, antara lain Peso Filipina (-0,46%), Baht Thailand (-0,33%), Won Korea Selatan (-0,10%), dan Ringgit Malaysia (-0,09%), disusul Dolar Singapura, Yuan Tiongkok, dan Yen Jepang.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi transaksi pasar surat utang, yang ditandadi dengan kenaikan imbal hasil (yield) di hampir seluruh tenor.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar ruipiah diprediksi masih bergerak melemah di kisaran Rp17.200 per dolar AS hingga Rp17.320 per dolar AS.
Terkait dengan pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) menyatakan terus berupaya meredam gejolak eksternal, dengan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter. Intervensi dilakukan di pasar offshore NDF, spot dan DNDF domestik.
Selain itu, BI juga memperluas operasi moneter valas, termasuk melalui instrumen spot dan swap dalam mata uang yuan offshore untuk mendukung rupiah serta memperluas transaksi menggunakan mata uang lokal. (jea)


