BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah ambruk ke level Rp17.870 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Jumat (29/5/2026), seusai libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Pada awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah dibuka dibuka di level Rp17.814 per dolar AS, melemah 25 poin dibandingkan Rp17.789 per dolar AS, pada penutupan perdagangan Selasa (26/5/2026).
Pelemahan rupiah ke level Rp17.800 sudah diperkirakan sebelumnya, karena rupiah offshore telah menyentuh level psikologis tersebut selama dua hari libur Idul Adha, pada 27-28 Mei 2026.
Hingga pukul 11:00 WIB, nilai tukar rupiah terpantau terus melemah ke level Tp17.870 per dolar AS, yang merupakan level terlemah sepanjang sejarah (all time low).
Ambruknya nilai tukar rupiah menimbulkan pertanyaan, karena pasar keuangan global justru mengalami rebound seiring pelemahan harga minyak dan indeks dolar AS.
Kabar mengenai tercapainya kesepakatan perdamaian sementara antara AS dan Irak, dengan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari ke depan, menjadi angin segar bagi pasar keuangan global.
Hal itu, membuat harga minyak dunia turun. Pada penutupan perdagangan Kamis (28/5/2026) harga minyak jenis Brent melemah 0,89% ke US$ 93,26 per barel, yang merupakan level terendah sejak 17 April 2026.
Sementara indeks dolar AS melemah ke level 98,98 pada sesi pagi perdagangan hari ini, yang mendorong mayoritas mata uang Asia dibuka menguat.
Meredanya ketegangan antara AS dan Iran, yang diikuti pelemahan harga minyak dunia dan indeks dolar, seharusnya menjadi sentimen positif, yang mendongkrak nilai tukar rupiah.
Meski demikian, rupiah terus melemah, bahkan dinilai telah berada di fase overshooting, yakni kondisi di mana pelemahan rupiah tidak sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
Pelaku pasar khususnya investor asing terus melakukan aksi jual di pasar saham dan surat utang (obligasi) domestik, sehingga rupiah tertekan justru karena sentimen negatif dari dalam negeri.
Penyebabnya, pelaku pasar masih menyoroti arah kebijakan pemerintah, dan mengukur kemampuan negara dalam menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian dan perubahan global, yang terjadi sangat cepat.
Dengan kondisi perekonomian saat ini, pelaku pasar cenderung tidak hanya menilai fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya, tetapi juga kredibilitas dan konsistensi kebijakan pemerintah.
Hingga saat ini, pemerintah belum melakukan perubahan atau mengambil kebijakan fiskal yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.
Lonjakan harga minyak dunia yang berdampak pada subsidi energi, serta pelemahan rupiah yang telah menyentuh level di atas Rp17.000 per dolar AS, tidak mendorong pemerintah untuk melakukan revisi terhadap Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026.
Pelaku pasar juga menyoroti kebijakan populis pemerintah untuk sejumlah program prioritas dengan anggaran jumbo, yang semakin membebani APBN, di tengah menipisnya penerimaan negara.
Sebagai informasi, Indonesia mencatat rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terendah di antara negara-negara G20. Rasio Indonesia hanya tercatat sebesar 11-12% dari PDB, sedangkan Meksiko adalah 25%, India 20%, Filipina 21% dan Kamboja 15%.
Hal inilah yang membuat aksi jual di pasar obligasi dalam negeri terus berlanjut, karena investor meragukan arah dan konsistensi kebijakan pemerintah Indonesia di tengah ketidakpastian global saat ini, sehingga nilai tukar rupiah terus tertekan.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi masih melanjutkan pelemahan, dengan bergerak di kisaran level Rp17.700 per dolar AS hingga level Rp17.900 per dolar AS. (jea)


