BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan awal pekan, Senin (24/8/2026), di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pelaku pasar akan mencermati sentimen global, arah suku bunga, serta pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak dengan level resistance 6.700, pivot 6.600, dan support 6.500. Sejumlah saham yang menjadi pilihan utama adalah BBRI, CUAN, PTRO, BRPT, BRIS, dan BBTN.
Pada perdagangan sebelumnya, Jumat (21/8/2026), IHSG ditutup menguat 0,37% ke level 6.525,69. Secara teknikal, indeks berhasil bertahan di atas MA100 dan berpotensi menguji resistance 6.630 sekaligus menutup gap pada level 6.705.
Penguatan IHSG ditopang oleh apresiasi rupiah serta optimisme terhadap prospek perekonomian domestik. Kendati demikian, investor tetap perlu mewaspadai tekanan jangka pendek terhadap saham-saham yang dikeluarkan dari hasil rebalancing FTSE Global Equity Index.
Dari pasar global, bursa saham Wall Street ditutup menguat pada Jumat (21/8), meski secara mingguan masih mencatat pelemahan. Penguatan pada akhir pekan terutama ditopang saham sektor keuangan, kesehatan, dan bahan baku.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury kembali meningkat. Yield tenor 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 4,736%, sedangkan tenor 30 tahun meningkat lebih dari 3 basis poin menjadi 5,273%.
Kenaikan yield obligasi AS menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi valuasi aset berisiko, termasuk saham dan pasar negara berkembang.
Sementara itu, harga emas spot melonjak 2,3% menjadi US$4.619 per troy ounce pada Jumat. Penguatan emas didorong faktor teknikal serta pelemahan dolar AS.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent relatif stabil di sekitar US$94 per barel. Stabilitas tersebut terjadi di tengah indikasi upaya Iran untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat.
Investor pada pekan ini akan mencermati perkembangan kebijakan moneter global, terutama arah suku bunga dan pergerakan yield obligasi pemerintah AS tenor panjang.
Tekanan terhadap pasar obligasi meningkat di tengah harga energi yang tinggi, pelebaran defisit anggaran, serta meningkatnya penerbitan surat utang korporasi.
Perhatian utama akan tertuju pada Simposium Jackson Hole, khususnya pandangan Federal Reserve mengenai prospek kebijakan moneter dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS belakangan ini.
Sejumlah data ekonomi Amerika Serikat yang juga dinantikan pasar meliputi indeks harga PCE, durable goods orders, serta revisi tahunan data nonfarm payrolls. Data-data tersebut akan menjadi pertimbangan investor dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Selain kebijakan moneter, pasar juga akan mencermati laporan keuangan Nvidia. Kinerja perusahaan teknologi tersebut dipandang sebagai salah satu indikator penting untuk menilai prospek industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Investor akan menilai apakah pertumbuhan permintaan infrastruktur AI masih mampu membenarkan tingginya belanja modal perusahaan teknologi atau justru mulai menunjukkan tanda-tanda berlebihan.
Di tengah beragam sentimen tersebut, IHSG memiliki peluang melanjutkan tren penguatan. Namun, pergerakan indeks tetap berpotensi volatil karena investor harus menyeimbangkan optimisme terhadap prospek ekonomi dengan tekanan dari kenaikan yield obligasi global dan ketidakpastian geopolitik.
Level 6.600 menjadi area penting untuk diperhatikan. Selama IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, peluang pengujian resistance 6.630 hingga 6.700 masih terbuka. Sebaliknya, pelemahan di bawah support 6.500 dapat meningkatkan tekanan jual dalam jangka pendek. (nov)


