BRIEF.ID – Harga Bitcoin kembali menguat pada perdagangan Minggu (23/8/2026) setelah sempat terkoreksi dari reli terbarunya. Penguatan didukung minat investor yang tetap tinggi terhadap aset kripto di tengah pelemahan dolar AS dan meningkatnya ekspektasi terhadap kondisi keuangan yang lebih longgar.
Bitcoin sebelumnya menyentuh level US$ 79.461 pada Jumat (21/8/2026) sebelum mengalami koreksi. Penurunan terjadi setelah reli tajam yang didorong oleh merosotnya imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield), meningkatnya permintaan di pasar spot, serta likuidasi paksa posisi bearish.
Pada Minggu (23/8/2026), Bitcoin diperdagangkan naik 0,3% menjadi US$77.307.
Pemulihan harga Bitcoin turut memberikan dorongan bagi industri penambangan (mining). Hashprice Bitcoin, yang mengukur estimasi pendapatan penambang dari satu unit daya komputasi, meningkat 20,4% dalam empat hari menjadi US$38,29 per petahash per detik (PH/s) pada Sabtu, dari US$31,80 pada 18 Agustus, menurut Bitcoin.com.
Sementara itu, daya komputasi jaringan Bitcoin berada di kisaran 922 exahash per detik (EH/s), semakin mendekati ambang 1 zettahash per detik.
Dalam persaingan mining pool, Foundry USA masih menjadi kelompok penambangan terbesar, disusul Antpool dan F2Pool.
Kenaikan harga Bitcoin juga menjadi faktor penting bagi profitabilitas penambang karena pendapatan industri masih sangat bergantung pada imbalan blok. Sepanjang Agustus hingga Sabtu, penambang Bitcoin telah mengantongi sekitar US$682,69 juta dari subsidi blok dan biaya transaksi.
Namun, hanya sekitar US$5,14 juta yang berasal dari biaya transaksi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendapatan penambang masih sangat bergantung pada block rewards dan pergerakan harga Bitcoin.
Kepala Riset Grayscale, Zach Pandl, melihat setidaknya tiga faktor yang dapat kembali menarik pembeli jangka panjang ke pasar Bitcoin.
Ketiga faktor ini adalah adopsi yang terus berkembang, pasar bearish yang mulai mendekati durasi historisnya, serta prospek makroekonomi yang secara umum lebih mendukung aset berisiko.
Menurut Pandl, fase bearish Bitcoin saat ini telah berlangsung sekitar 10 bulan. Durasi tersebut semakin mendekati rata-rata maupun median sekitar 11–12 bulan yang tercatat dalam empat siklus penurunan harga Bitcoin sebelumnya.
Jika pola historis kembali terjadi, berakhirnya fase bearish dapat membuka ruang bagi pemulihan minat investor dan terbentuknya tren kenaikan baru.
Namun, pergerakan Bitcoin tetap sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter AS, arah imbal hasil obligasi, kekuatan dolar, serta arus dana investor ke pasar aset digital. Pemulihan terbaru karena itu belum serta-merta menandai berakhirnya tekanan jual, tetapi menunjukkan bahwa minat beli mulai kembali muncul setelah periode koreksi yang panjang. (Investing.com/nov)


