Pekan Depan, Pelemahan IHSG dan Rupiah Diperkirakan Berlanjut

BRIEF.ID – Tren pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah berlanjut, pada penutupan perdagangan Jumat (19/12/2025).

IHSG ditutup melemah di level 8.609,55  atau sebesar 0,10%).   Sektor transportasi mengalami koreksi terbesar, sedangkan sektor noncyclical membukukan kenaikan terbesar.

Rupiah di pasar spot berlanjut melemah di level Rp16,750 per dolar AS, di tengah mayoritas mata uang Asia yang cenderung melemah. Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah level MA5 dan MA20.

Negative slope MACD berlanjut melebar. Stochastic RSI berlanjut melemah di area oversold, namun belum ada indikasi reversal, sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menguji level 8.500-8.550, pada pekan depan.

Data penjualan mobil domestik turun 0,8% YoY menjadi 74.252 unit di November 2025. Penurunan ini melambat dibandingkan bulan Oktober 2025, yang mencatatkan penurunan sebesar 4,4% YoY. Pada periode Januari-November 2025, total penjualan mobil mencapai 710 ribu unit, turun sekitar 10% YoY dari periode sama tahun 2024.

Pemerintah RI mengindikasikan tidak akan melanjutkan insentif kendaraan listrik pada tahun 2026, untuk mendorong produsen otomotif membangun fasilitas produksi di dalam negeri.

Sementara itu, seperti yang diperkirakan Bank of Japan (BOJ) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 0,75%, pada Jumat (19/12/2025), yang merupakan level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

Capaian merupakan kenaikan suku bunga yang kedua kalinya pada tahun ini, setelah kenaikan pertama pada Januari 2025. BOJ juga menyatakan ada potensi kenaikan suku bunga akan berlanjut jika kondisi ekonomi membaik dan inflasi tetap tinggi. BOJ memperkirakan inflasi inti akan melamnbat hingga di bawah target 2% pada 1H26 sebelum kemudian meningkat secara stabil. Mata

uang Yen Jepang juga melemah meskipun BOJ menaikkan suku bunga, karena ketidakpastian kapan dan berapa banyak kenaikan berikutnya akan terjadi serta suku bunga acuan Jepang yang masih relatif rendah dibandingkan dengan suku bunga AS dan negara maju lainnya.

Saham-saham yang dapat diperhatikan pada pekan depan  adalah SIDO, ISAT, AMMN, MYOR, MIDI, dan JSMR. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Dari Tanah Seram ke Panggung Istana: “Koboi dari Timur” dan Pertaruhan Besar di Arena Investasi

BRIEF.ID - Jejak langkahnya tidak dimulai dari ruang kuliah...

Harga Bitcoin Dekati US$ 65.000, Investor Waspadai Risiko Chain Split

BRIEF.ID - Harga Bitcoin kembali mendekati level US$ 65.000,...

Lee Dae Hwi AB6IX Gabung Off The Record Entertainment, Reuni dengan Kim Jae Hwan

BRIEF.ID – Lee Dae Hwi, anggota grup K-pop AB6IX,...

BTS Puncaki Peringkat Reputasi Merek Boy Group Agustus 2026

BRIEF.ID – BTS kembali menduduki posisi teratas dalam peringkat...