BRIEF.ID – Morgan Stanley Capital International (MSCI) akan mengumumkan hasil rebalancing indeks MSCI pada besok, Selasa (12/5/2026), yang juga berlaku bagi posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan saham-saham berkapitalisasi besar.
Hal itu, telah menimbulkan volatilitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan hari ini, Selasa (11/5/2026), seiring kekhawatiran investor terkait hasil rebalancing atau penyesuaian indeks MSCI.
IHSG pada perdagangan hari ini, ditutup terkoreksi 0,92% atau 63,77 poin ke level 6.905. Sebanyak 442 saham turun harga, 251 saham naik harga, dan 125 saham lainnya tidak mengalami perubahan atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan di BEJ sepanjang hari ini mencapai 41,171 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 2.828.205 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp20,534 triliun.
Saham-saham sektor perbankan mengalami penurunan harga, terutama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), yang terkoreksi hingga 8,21% atau Rp380 menjadi Rp4.250 per lembar.
Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, meminta seluruh stakeholder pasar modal untuk tenang dan menunggu hasil rebalancing indeks yang diumumkan MSCI.
Menurut dia, keputusan MSCI sebelumnya, yang membekukan (freeze) sementara seluruh indeks Indonesia telah mendorong reformasi integritas pasar modal Indonesia secara keseluruhan.
“Dengan perbaikan reformasi integritas yang kami lakukan pasti ada dampaknya. Kalau pun ada penyesuaian jangka pendek, kami melihat ini sebagai short term pain. Tapi Insya Allah long term gain gitu ya,” kata Ketua OJK yang akrab disapa Kiki tersebut.
Seperti diketahui, MSCI membekukan sementara indeks Indonesia dari daftar MSCI Global Indeks untuk mengevaluasi reformasi mulai dari transparansi pemegang saham hingga aturan free float minimal 15%.
Jika Besok MSCI kembali memunculkan tiga isu, yakni free float, High Shareholding Concentration (HSC), atau pengurangan bobot saham tertentu dalam pengumuman hasil rebalancing indeks, maka IHSG berisiko mengalami volatilitas jangka pendek karena investor asing cenderung lebih berhati-hati.
Adapun reformasi yang dilakukan dengan mengacu pada tiga isu tersebut, maka ada beberapa kemungkinan, yang bakal terjadi pada sejumlah saham dan emiten (perusahaan tercatat), yaitu:
– Bobot saham 4 bank Besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diprediksi turun, yang berisiko memicu tekanan jual dari dana global.
– Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terrancam keluar dari indeks akibat kriteria baru High Shareholding Concentration (HSC).
– Kebijakan Khusus: Untuk sementara, tidak ada saham baru yang masuk dan kenaikan status dari Small Cap ke Standard dibekukan.
Meski berpotensi memicu volatilitas jangka pendek terhadap IHSG, pelaku pasar menilai rebalancing indeks MSCI sebenarnya membuka peluang positioning baru bagi investor untuk jangka panjang (long term).
Terkait dengan arus dana asing atau capital inflow, sangat bergantung pada hasil rebalancing indeks yang akan diumumkan MSCI. Pasalnya, banyak fund manager global menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi. (jea)


