BRIEF.ID – Ada sebuah keinginan yang sempat terlintas di benak Neneng Herbawati, suatu hari terbang ke Tuscany, Italia, untuk menyaksikan langsung konser Andrea Bocelli di tanah kelahirannya. Membayangkan menikmati suara emas sang maestro di tengah lanskap indah Tuscany tentu menjadi sebuah pengalaman yang istimewa.
Rupanya tak perlu sampai ke Italia untuk mewujudkan sebagian mimpi itu.
“Kali ini, perjalanan hanya membawa saya sampai ke Kemayoran, Jakarta,” kata Neneng Herbawati usai menyaksikan konser bertajuk Andrea Bocelli – Romanza 30th Anniversary World Tour di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026) malam.
Konser ini menjadi bagian dari perayaan 30 tahun album Romanza, salah satu karya penting yang mengantarkan Andrea Bocelli dikenal di panggung musik internasional.
Bagi Neneng yang menyaksikan konser bersama suaminya Saptono Ariyanto, kesempatan menyaksikan langsung suara tenor legendaris asal Italia itu merupakan pengalaman yang sangat istimewa.
“Kesempatan menyaksikan langsung Andrea Bocelli dalam konser Romanza 30th Anniversary World Tour tentu menjadi pengalaman yang sangat berkesan,” ujarnya.
Apalagi, muncul informasi bahwa rangkaian tur dunia tahun ini menjadi salah satu kesempatan terakhir bagi para penggemar untuk menyaksikan sang maestro dalam tur global. Setelah itu, bukan tidak mungkin Bocelli akan lebih banyak menghabiskan waktu dan tampil di tempat yang begitu dekat dengan hatinya, Tuscany.
Malam di Kemayoran pun terasa seperti sebuah kesempatan berharga. Sebuah perjumpaan langsung dengan suara legendaris yang selama ini lebih sering dinikmati melalui rekaman.

Duet Doa Perdamaian
Salah satu momen paling membekas malam itu adalah ketika Andrea Bocelli berduet dengan soprano kebanggaan Indonesia, Lea Simanjuntak, membawakan lagu The Prayer.
Perpaduan suara tenor Italia dan soprano Indonesia, menghadirkan suasana yang khidmat. Bukan sekadar duet dua penyanyi dengan kualitas vokal luar biasa, melainkan sebuah persembahan yang sarat makna.
Lantunan The Prayer malam itu terasa lebih dari sekadar lagu. The Prayer menjadi doa bagi perdamaian dunia sekaligus pengingat bahwa di berbagai belahan bumi banyak anak-anak dan masyarakat sipil yang harus menjalani kehidupan di tengah konflik dan peperangan.
Mereka kehilangan rasa aman, rumah, bahkan orang-orang terkasih.
Di tengah kemegahan panggung dan keindahan musik, pesan kemanusiaan itu terasa begitu dekat. Perdamaian bukan sekadar kata yang indah diucapkan, melainkan harapan nyata bagi mereka yang hidup dalam penderitaan akibat perang.

Perjalanan Hidup Andrea Bocelli
Di balik suara emas Andrea Bocelli, sebenarnya tersimpan perjalanan hidup yang luar biasa. Ia bukan hanya seorang penyanyi dengan kemampuan vokal mengagumkan, tetapi juga sosok yang kisah hidupnya merefleksikan keteguhan, keberanian, dan semangat untuk tidak menyerah pada keterbatasan.
Kehilangan penglihatan sepenuhnya pada usia 12 tahun tidak membuatnya berhenti mengejar cita-cita. Bocelli tetap gigih melanjutkan pendidikan hukum di University of Pisa, mendalami musik, hingga akhirnya membangun karier dan menjadi salah satu tenor paling dikenal serta dikagumi di dunia.
Kisah hidupnya mengingatkan bahwa keterbatasan tidak harus menjadi akhir dari sebuah perjalanan. Selalu ada hal yang dapat diperjuangkan ketika seseorang memiliki tekad, keyakinan, dan keberanian untuk terus melangkah.
Kepedulian Andrea Bocelli juga tidak berhenti di atas panggung. Melalui Andrea Bocelli Foundation, sang maestro turut berkontribusi membuka akses pendidikan dan kesempatan untuk masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dari komunitas rentan.
Di titik inilah sosok Andrea Bocelli terasa semakin istimewa. Ia tidak hanya menghadirkan keindahan melalui musik, tetapi juga berupaya menebarkan harapan melalui karya-karya kemanusiaan.
“Malam itu, saya pulang dengan perasaan bahagia sekaligus membawa sebuah refleksi. Ternyata, musik bukan hanya tentang nada yang sempurna atau suara yang indah. Musik bisa melampaui batas bahasa, negara, budaya, bahkan perbedaan. Musik menjadi bahasa universal untuk menyampaikan cinta, harapan, kemanusiaan, dan perdamaian,” kata Neneng.
Ia mengakui belum berkesempatan menikmati konser Andrea Bocelli di Tuscany. Namun, menyaksikan sang maestro secara langsung di JIExpo, Kemayoran, terlebih mendengarkan The Prayer yang begitu menyentuh hati, menjadi pengalaman berharga yang akan tersimpan lama dalam ingatannya.
“What a beautiful voice, what an inspiring journey. Grazie, Maestro Andrea Bocelli. Terima kasih telah mengingatkan saya bahwa keindahan sejati bukan hanya tentang apa yang bisa didengar, tetapi juga tentang apa yang bisa dirasakan dan dibagikan kepada sesama,” pungkas Neneng.
Seperti penggalan lagu Andrea Bocelli yang begitu melekat di hati, Vivo per lei—aku hidup untuknya. Sebab, bagi sebagian orang, musik bukan sekadar hiburan. Musik adalah bagian dari kehidupan. (nov)


