BRIEF.ID – Menteri Keuangan (Menkeu), Suahasil Nazara, mengatakan arus modal asing kembali masuk (capital inflow) ke Indonesia, terutama membidik Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Tren capital inflow terlihat meningkat mulai awal September 2026, setelah pada bulan-bulan sebelumnya terjadi arus modal keluar (capital outflow) yang deras dari pasar keuangan Indonesia.
“Per 14 September, minggu lalu, akumulasi aliran modal masuk sepanjang tahun ini sekitar Rp140,7 triliun, lewat SBN dan SRBI,” kata Suahasil dalam kegiatan ANTARA Business Forum (ABF), di Jakarta, Rabu (23/9/206).
Data Bloomberg menunjukkan, sepanjang bulan ini, tepatnya hingga 21 September 2026, investor asing membukukan capital inflow ke pasar surat utang Indonesia sebesar US$244,8 juta.
Per 15 September 2026, porsi kepemilikan investor asing di SBN atau Obligasi Pemerintah tenor 5-10 tahun meningkat menjadi 40,57% dari 39,73%, sedangkan tenor 2-5 tahun naik menjadi 33,07% dari 32,7%.
Meski demikian, pada saat bersamaan, porsi kepemilikan investor asing di obligasi pemerintah tenor jangka pendek, yakni 0-1 tahun, justru turun tajam dari 6,25% menjadi 4,91%.
Menurut Suahasil, tren kembaliya capital inflow menunjukkan bahwa persepsi positif investor global terhadap perekonomian Indonesia kembali pulih di tengah ketidakpastian global, seiring tren kenaikan suku bunga dan inflasi global.
“Kembalinya capital inflow di tengah perekonomian dunia yang tengah mengalami turbulensi ini menunjukkan satu keberhasilan dari pengelolaan ekonomi makro yang harus tetap kita jaga,” ujar Suahasil.
Tiga Strategi
Terkait dengan itu, Menkeu Suahasil mengungkapkan, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menyiapkan tiga strategi fiskal untuk memperkuat anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Pertama, mengoptimalkan pengumpulan penerimaan negara serta meningkatkan rasio pajak (tax ratio). Strategi itu diwujudkan melalui upaya meningkatkan kepatuhan wajib pajak, memperluas basis pajak, serta memastikan implementasi Coretax berjalan secara efektif.
“Ke depan, pemerintah juga akan terus menyelaraskan sistem perpajakan dengan perkembangan global dan ekonomi digital, serta mengoptimalkan penerimaan dari berbagai sumber,” ungkap Suahasil.
Kedua, meningkatkan kualitas belanja. Menurutnya, APBN juga harus mempertajam belanja dengan meningkatkan efisiensi serta ketepatan sasaran belanja. Pihaknya juga akan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah melalui harmonisasi kebijakan.
Ketiga, pembiayaan inovatif. Asrtinya, ketika APBN didesain untuk terus ekspansif, maka pembiayaan juga harus dilakukan dengan makin inovatif.
“Kami mengeluarkan berbagai macam pembiayaan yang lebih inovatif supaya bisa berperan menjaga kesehatan APBN,” tutur Suahasil. (Jea)


