BRIEF.ID – Mata uang Asia diperdagangkan beragam pada Jumat (12/6/2026) disaat nilai tukar Dolar AS sedikit melemah, karena investor mempertimbangkan harapan baru perjanjian damai AS-Iran. Di sisi lain, kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut sehingga mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve.
Indeks Dolar AS turun 0,1% dalam perdagangan di Bursa Asia, setelah tergelincir ke level terendah pekan lalu. Indeks Futures Dolar AS Index juga turun tipis 0,1%.
Presiden AS Donald Trump mengatakan, perjanjian damai dengan Iran akan ditandatangani secepatnya pada akhir pekan ini, membantu mendorong sentimen risk-on secara luas di pasar global. Namun, pejabat Iran mengindikasikan bahwa belum ada keputusan akhir yang dicapai.
Harga minyak turun ke level terendah dalam sekitar dua bulan atas harapan meredanya ketegangan dan pembukaan kembali jalur pasokan energi.
Nilai tukar Rupee India memimpin kenaikan regional, dengan pasangan US$/INR turun 0,7%. Pasangan US$/CNY yuan Tiongkok turun 0,2%, sementara pasangan US$/SGD dolar Singapura diperdagangkan flat.
Pasangan AUD/US$ dolar Australia turun tipis 0,1% setelah naik 0,7% pada sesi sebelumnya.
Di tempat lain, pasangan US$/JPY yen Jepang naik 0,2% ke 160,25 yen, tetap di atas level 160 yen yang mendorong intervensi dari Tokyo.
Pasar menantikan pertemuan kebijakan Bank of Japan, yang dijadwalkan pekan depan, di mana para pembuat kebijakan diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1% – tertinggi dalam beberapa dekade. (Investing.com/nov)


