BRIEF.ID – Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) XVII secara aklamasi menetapkan Luky Agung Yusgiantoro sebagai Ketua Umum Presidium Pimpinan Pusat (PP) ISKA, periode 2026-2030. Munas XVII ISKA digelar di Hotel Novotel Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (11/9/2026).
Pada sidang yang dipimpin Luky Yusgiantoro, didampingi Arie Sulistiono dan Joni Sinatra Ginting, ISKA memaparkan Dokumen Pokok-Pokok Pikiran dan Rekomendasi Kemasyarakatan.
Dokumen itu menegaskan bahwa Indonesia tengah memasuki fase krusial menuju Indonesia Emas 2045, di tengah pergeseran geopolitik, perkembangan kecerdasan artifisial (AI), krisis ekologis, serta dinamika ekonomi global.
Luky mengatakan, bonus demografi dan kekayaan alam tidak secara otomatis menjamin tercapainya cita-cita Indonesia Emas 2045 tanpa keberanian moral dan kepastian hukum.
“Pertumbuhan ekonomi harus disertai pemerataan dan pekerjaan yang layak. Demokrasi harus berkembang menjadi demokrasi substantif yang menjunjung etika, kebebasan sipil, dan akuntabilitas. Kehadiran sarjana Katolik di ruang publik bukan untuk membangun eksklusivisme identitas, melainkan menghadirkan kompetensi, integritas, dan keberpihakan pada kebaikan bersama (bonum commune),” ujar Luky dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (16/9/2026).
10 Agenda Strategis ISKA
Pada kesempatan itu, Luky secara khusus memaparkan 10 agenda strategis ISKA yang akan menjadi arah organisasi ke depan. Agenda tersebut merupakan kontribusi organisasi bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat yang berakar pada nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, serta Ajaran Sosial Gereja.
- Sepuluh agenda strategis ISKA terdiri atas:
- 1. Pancasila sebagai Etika Publik – Menjadikan Pancasila sebagai titik temu kebangsaan dan panduan
- moral dalam bernegara.
- 2. Demokrasi Substantif dan Negara Hukum – Mewujudkan penegakan hukum yang berintegritas dan
- menjamin keadilan sosial.
- 3. Ekonomi Inklusif dan Berkeadilan – Mendorong pertumbuhan ekonomi yang produktif, berkelanjutan,
- dan merata.
- 4. Peningkatan SDM dan Pendidikan – Menguatkan riset, peran perempuan, serta kapasitas generasi
- muda.
- 5. Penguatan Kohesi Sosial – Merawat toleransi dan keberagaman budaya serta meningkatkan literasi
- digital.
- 6. Kedaulatan dan Ketahanan Nasional – Merespons dinamika geopolitik melalui ketahanan
- multidimensi.
- 7. Perlindungan HAM dan Ruang Sipil – Menjamin kebebasan beragama dan menjaga martabat manusia.
- 8. Transformasi Teknologi Etis – Mengembangkan kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi digital yang
- berpusat pada kemanusiaan.
- 9. Ekologi dan Keutuhan Ciptaan – Menjadikan kelestarian lingkungan sebagai arus utama kebijakan
- pembangunan.
- 10. Penguatan Peran Intelektual ISKA – Menegaskan peran ISKA sebagai wadah pemikiran (think tank)
- dan pengabdi kebaikan bersama.
Munas yang digelar empat tahunan dan bertepatan dengan dinamika pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) tersebut menjadi momentum konsolidasi gagasan, evaluasi kepengurusan, serta perumusan arah strategis organisasi dalam merespons tantangan nasional dan global.
Munas XVII ISKA mengusung tema “Merawat Harapan, Menguatkan Persaudaraan Kebangsaan Menuju Indonesia Emas 2045: Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan, Memperkuat Demokrasi, Kedaulatan Bangsa, Kemanusiaan, Persaudaraan, dan Keutuhan Ciptaan.”
Rangkaian pembukaan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Hardjosusanto, MSF, bersama jajaran imam selebran. Perayaan tersebut menegaskan dimensi spiritualitas dan komitmen pelayanan para sarjana Katolik.
Pembukaan Munas juga dihadiri dan mendapat apresiasi secara virtual dari Menteri Agama Republik Indonesia serta Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.
ISKA menegaskan bahwa identitas sebagai warga negara Indonesia dan umat Katolik merupakan dua hal yang saling menguatkan. Dokumen rekomendasi tersebut diharapkan menjadi peta jalan bagi kontribusi intelektual warga ISKA, sekaligus ajakan kepada pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk bersama-sama merawat harapan bangsa. (nov)


