Kontrak Berjangka Wall Street Melemah

BRIEF.ID – Kontrak berjangka (futures) indeks saham Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Kamis, seiring investor menunggu serangkaian laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan teknologi terbesar dunia serta keputusan kebijakan moneter terbaru dari Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB). Pasar juga terus mencermati potensi tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kontrak berjangka Dow Jones turun 187 poin atau 0,4%, kontrak berjangka S&P 500 turun 26 poin atau 0,4%, dan kontrak berjangka Nasdaq 100 turun 123 poin atau 0,4%.

Kontrak berjangka  Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq 100  diperdagangkan di zona negatif setelah pelaku pasar melakukan aksi ambil untung menyusul reli sektor teknologi dalam beberapa sesi terakhir.

Fokus utama investor tertuju pada hasil kinerja kuartalan sejumlah perusahaan besar, termasuk Alphabet, Tesla, dan IBM, yang dinilai akan memberikan gambaran mengenai prospek belanja teknologi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Alphabet menjadi perhatian khusus setelah mengumumkan peningkatan belanja modal (capital expenditure) untuk memperluas infrastruktur AI, termasuk pembangunan pusat data dan pengembangan chip khusus. Langkah tersebut memperkuat optimisme terhadap prospek industri semikonduktor, namun juga memunculkan pertanyaan mengenai besarnya biaya investasi yang harus ditanggung perusahaan dalam jangka pendek.

Di sisi lain, investor juga menantikan keputusan kebijakan moneter ECB. Bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya, namun pasar akan mencermati pernyataan Presiden ECB mengenai prospek inflasi dan arah kebijakan pada sisa tahun ini. Kekhawatiran meningkat setelah harga minyak mentah naik akibat konflik yang melibatkan Iran dan gangguan terhadap jalur perdagangan energi di Timur Tengah, yang berpotensi mendorong kembali tekanan inflasi di Eropa.

Kenaikan harga minyak telah meningkatkan ekspektasi bahwa bank-bank sentral, termasuk ECB, akan tetap berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Apabila tekanan harga energi terus berlanjut, ruang bagi penurunan suku bunga dapat menjadi lebih terbatas.

Kuatnya kinerja sektor teknologi dan investasi besar pada AI mendukung optimisme pada pertumbuhan ekonomi digital. Di sisi lain, kenaikan harga energi, risiko geopolitik, dan ketidakpastian arah suku bunga masih menjadi faktor yang membatasi minat investor terhadap aset berisiko.

Pelaku pasar juga akan mencermati data ekonomi Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan sebagai petunjuk tambahan mengenai prospek inflasi dan kemungkinan langkah kebijakan Federal Reserve pada pertemuan berikutnya. (Investing.com/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Mentan Amran Kejar Swasembada Gula, Produksi Nasional Ditargetkan Capai 3 Juta Ton pada 2029

BRIEF.ID – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mempercepat...

Gelombang Investasi AI Dorong Reli Saham Chip Global

BRIEF.ID – Industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kembali menjadi...

Saham Eropa Melemah, Imbal Hasil Obligasi Melonjak

BRIEF.ID – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada perdagangan...

Program Layanan Kesehatan Gigi Gratis Kembara Nusa Sentuh Masyarakat Alor NTT

BRIEF.ID – Program layanan kesehatan gigi gratis bagi masyarakat...