BRIEF.ID – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas pada Senin (20/7/2026), sehingga memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan global. Eskalasi aksi militer kedua negara meningkatkan risiko terganggunya pasokan energi dunia dan mendorong harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu bulan.
“Kami kembali menyerang mereka dengan sangat keras malam ini. Dan kami melakukan itu untuk menghormati para prajurit yang gugur,” kata Presiden AS Donald Trump dikutip dari Associated Press, Senin (20/7/2026).
Sebelumnya, militer AS menyatakan serangan menargetkan Garda Revolusi paramiliter Iran sebagai balasan atas pembunuhan pasukan di Yordania pada hari Jumat (17/7/2026). Satu anggota militer hilang setelah serangan itu, dan pernyataan baru militer mengatakan “jenazah tak dikenal” ditemukan pada hari Minggu dan sedang diperiksa. Sejak perang dimulai, 17 anggota militer AS telah tewas.
AS melanjutkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran untuk malam kesembilan berturut-turut, sementara Iran meningkatkan serangan terhadap target-target yang diklaim terkait kepentingan AS dan sekutunya di kawasan. Ketegangan juga berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Aktivitas kapal yang melintasi selat tersebut dilaporkan menurun tajam akibat meningkatnya risiko keamanan.
Eskalasi konflik mendorong harga minyak mentah Brent menembus US$ 90 per barel untuk pertama kalinya sejak Juni. Pelaku pasar khawatir gangguan terhadap distribusi minyak dari Timur Tengah akan mempersempit pasokan global dan memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara.
Selain pasar energi, konflik AS–Iran juga menjadi perhatian para investor menjelang sejumlah agenda ekonomi penting pekan ini, termasuk musim laporan keuangan perusahaan-perusahaan teknologi besar Amerika Serikat dan pertemuan bank sentral di berbagai negara. Meningkatnya ketidakpastian geopolitik diperkirakan dapat mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman serta meningkatkan volatilitas di pasar saham dan pasar valuta asing.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak dunia berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meningkatkan risiko inflasi, serta menambah beban subsidi energi dan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini juga dapat mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terutama apabila ketegangan geopolitik terus berlanjut.
Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan konflik dan setiap upaya diplomasi yang dapat meredakan ketegangan. Selama belum ada tanda-tanda deeskalasi, faktor geopolitik diperkirakan tetap menjadi salah satu sentimen utama yang memengaruhi arah pasar keuangan global. (nov)


