Jakarta Kembali Jadi Magnet Investor Nasional

BRIEF.ID – Realisasi investasi di DKI Jakarta pada Semester I 2026 tidak hanya menempatkan ibu kota sebagai daerah dengan investasi terbesar di Indonesia, tetapi juga menjadi motor penciptaan lapangan kerja.

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, investasi senilai Rp173,6 triliun berhasil menyerap 289.000 lebih tenaga kerja, hal itu memperkuat peran Jakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi provinsi DKI Jakarta mencapai Rp173,6 triliun atau 17,2 persen dari total investasi nasional.

Nilai tersebut berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp106,5 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp67,1 triliun.

Kepala Unit Pengelola Jakarta Investment Centre (JIC), Ezrin Kartika, mengatakan tingginya nilai investasi itu memberikan dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor usaha.

“Keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari banyaknya proyek yang sudah atau berhasil dibangun, tetapi juga dari dampak ekonominya. Investasi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan aktivitas usaha, serta mendorong pertumbuhan ekonomi,” tutur Ezrin di Jakarta, Kamis (6/8).

Menurutnya, dari total penyerapan tenaga kerja tersebut, lebih dari 220.000 pekerja berasal dari proyek PMDN, sedangkan sekitar 78.000 tenaga kerja berasal dari investasi PMA.

“Pada akhirnya, investasi mendukung transformasi Jakarta sebagai kota global yang semakin layak huni, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DKI Jakarta Heru Hermawanto menilai capaian tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap iklim usaha di Jakarta.

“Pencapaian ini menunjukkan Jakarta tetap menjadi tujuan utama investasi di Indonesia. Kepercayaan investor yang terus meningkat merupakan hasil sinergi berbagai pihak dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif, didukung arah kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono yang menempatkan kemudahan investasi dan pelayanan publik sebagai prioritas pembangunan,” ujarnya.

Untuk menjaga momentum tersebut, DPMPTSP terus memperkuat pelayanan investasi melalui optimalisasi Mal Pelayanan Publik (MPP), digitalisasi layanan perizinan dan nonperizinan, layanan jemput bola kepada pelaku usaha, hingga pendampingan investasi secara terintegrasi.

Selain itu, pemerintah provinsi DKI Jakarta juga mengembangkan promosi investasi berbasis data melalui penyusunan peta potensi investasi dan proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang telah dipersiapkan dari sisi teknis, finansial, maupun potensi pasar.

“Kami memastikan peluang investasi yang ditawarkan telah memiliki kesiapan dari sisi teknis, finansial, maupun pasar. Dengan demikian, investor memperoleh kepastian yang lebih baik dalam mengambil keputusan investasi di Jakarta,” tuturnya.

Dari sisi wilayah, Jakarta Selatan masih menjadi tujuan utama investasi dengan realisasi mencapai Rp62,7 triliun. Posisi berikutnya ditempati Jakarta Pusat sebesar Rp49,9 triliun, Jakarta Utara Rp23,1 triliun, Jakarta Barat Rp20,6 triliun, dan Jakarta Timur Rp17,1 triliun. Sementara Kepulauan Seribu mencatat investasi sebesar Rp289 miliar.

Menurut Heru, tingginya investasi di Jakarta didukung oleh berbagai faktor, mulai dari infrastruktur yang terintegrasi, pasar yang besar, sumber daya manusia yang kompetitif, hingga ekosistem bisnis yang semakin matang.

Data BKPM juga menunjukkan investasi di Jakarta masih didominasi sektor-sektor strategis yang menopang aktivitas ekonomi perkotaan.

Sektor Transportasi, Pergudangan, dan Telekomunikasi menjadi kontributor terbesar dengan nilai investasi Rp54,3 triliun atau 31 persen dari total investasi. Disusul sektor Jasa Lainnya sebesar Rp43,6 triliun (25 persen), serta Perdagangan dan Reparasi sebesar Rp28,4 triliun (16 persen).

Sementara sektor Perumahan, Kawasan Industri, dan Perkantoran membukukan investasi Rp14 triliun, sedangkan sektor Konstruksi mencapai Rp12,9 triliun.

Dominasi sektor-sektor itu menunjukkan bahwa transformasi Jakarta menuju kota global masih menjadi daya tarik utama investor, terutama pada bidang yang mendukung konektivitas, logistik, jasa, dan perdagangan.

Sebagai pusat ekonomi nasional, Jakarta terus berupaya menjaga daya saing investasi melalui penyederhanaan perizinan, digitalisasi layanan, penyediaan data investasi yang komprehensif, serta pendampingan investor sejak tahap penjajakan hingga realisasi proyek.

Heru optimistis tren investasi akan terus tumbuh seiring meningkatnya kualitas layanan publik dan kepastian berusaha.

“Kami optimistis tren investasi di Jakarta akan terus meningkat. Melalui pelayanan yang semakin mudah, cepat, transparan, dan terintegrasi, kami berkomitmen menjadikan Jakarta sebagai kota yang semakin kompetitif, inklusif, dan menarik bagi investor dari dalam maupun luar negeri,” katanya. (ayb)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Misteri Bunker Sekolah Jaksel, Yayasan Minta Polisi Bongkar Ruangan yang Diduga Simpan Barang Bukti

BRIEF.ID – Pengusutan kasus temuan senjata api, narkoba, dan...

Boy Group AEN, Umumkan Nama Resmi Fan Club

BRIEF.ID – Boy group pendatang baru besutan STARSHIP Entertainment,...

Tokyo, Porto, dan Melbourne, Kota Terbaik Dunia bagi Generasi Z Versi Time Out

BRIEF.ID – Perusahaan media dan perhotelan global asal Inggris,...

Harga Bitcoin Dekati Level US$ 65.000

BRIEF.ID – Harga Bitcoin menguat pada perdagangan Kamis (6/8/2026),...