Investor Diingatkan Waspada Potensi Profit Taking

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (15/4/2026) diperkirakan masih berpeluang untuk melanjutkan penguatan. Di sisi lain, investor diingatkan agar mewaspadai potensi terjadinya aksi profit taking.

Riset Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa IHSG akan bergerak pada resistance  7.800, pivot  7.700, dan support  7.600. Adapun saham-saham yang diunggulkan adalah  TOBA, ESSA, TINS, HRUM, dan ELSA.

“Jika IHSG mampu bertahan di atas level 7.700,  diperkirakan IHSG berpeluang menguji level MA50 di sekitar level 7.800. Namun, investor wajib mewaspadai potensi aksi profit taking  jangka pendek, mengingat kondisi IHSG yang sudah memasuki area overbought,” demikian riset Phintraco Sekuritas, yang dirilis Rabu . 

Sebelumnya, IHSG ditutup menguat  175,76  poin di level 7.675,95 atau naik 2,34%) pada perdagangan Selasa (14/4). Secara teknikal, MACD berlanjut menguat dan Stochastic RSI bergerak di area overbought setelah  membentuk gap di 7.527.  IHSG juga berpotensi menguji level resistance berikutnya di 7.700.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah merilis dua roadmap strategis 2026-2030 untuk memperdalam pasar keuangan domestik, yaitu pengembangan pasar derivatif dan pasar modal berkelanjutan.

Berdasarkan aturan itu, pengembangan pasar derivatif fokus pada pelindungan investor, harmonisasi pengawasan, dan peningkatan infrastruktur untuk menciptakan pasar yang likuid dan efisien. Roadmap pasar modal berkelanjutan menargetkan penguatan instrumen berbasis ESG untuk mendukung net zero emission Indonesia, dengan pilar utama berupa kebijakan, diversifikasi produk, insentif, dan kolaborasi.

Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan bahwa gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga minyak dan gas (migas) secara signifikan sehingga berdampak langsung terhadap beban biaya impor terutama pada negara-negara berkembang.

IMF memperingatkan jika konflik masih berlangsung berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi global berpeluang melemah hingga level 2% yang mengindikasikan kondisi resesi global. IMF juga memperingatkan risiko munculnya stagflasi. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Indeks Wall Street Menguat, Terbuka Harapan Tercapainya Kesepakatan AS-Iran

BRIEF.ID – Indeks di bursa Wall Street New York,...

KKP Perkuat Ketertelusuran Produk Ekspor Perikanan secara Digital

BRIEF.ID - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membeberkan pasar...

PLN Pasok Listrik 250 MVA ke IKPP, Dorong Ekspansi Industri Kertas Nasional

BRIEF.ID - PT PLN (Persero) kembali memperkuat perannya dalam...

Investasi Kuartal I 2026 Diproyeksi Tembus Rp497 T, Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja

BRIEF.ID - Pemerintah memperkirakan aliran dana investasi yang masuk...