BRIEF.ID – Indeks di bursa Wall Street New York, Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/4/2026).
Penguatan indeks dipicu oleh harapan akan tercapainya kesepakatan AS-Iran, data inflasi PPI yang lebih baik dari estimasi, dan laporan keuangan perusahaan yang kuat.
Inflasi PPI sedikit naik menjadi 0,5% MoM dan 4% YoY pada bulan Maret 2026, lebih baik dari perkiraan yang sebesar 1,1% MoM dan 4,6% YoY.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS telah dihubungi oleh para pejabat Iran, yang ingin membuat kesepakatan, serta menambahkan bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.
Pakistan telah menawarkan untuk menjadi tuan rumah putaran kedua perundingan sebelum berakhirnya gencatan senjata. Selain itu, dilaporkan bahwa AS, Israel, dan Lebanon sepakat untuk memulai negosiasi langsung di AS.
Dampak perang terhadap proyeksi ekonomi juga terlihat dalam data global. Menurut proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia terbaru yang dikeluarkan Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan ekonomi global kini diperkirakan akan melambat menjadi 3,1% tahun ini dan 3,2% pada tahun 2027.
IMF menyatakan setelah mampu mengatasi hambatan perdagangan yang lebih tinggi dan ketidakpastian yang meningkat tahun lalu, aktivitas global kini menghadapi ujian besar akibat pecahnya perang di Timur Tengah.
Harga minyak mentah melemah karena ada harapan tercapainya kesepakatan serta proyeksi IEA bahwa permintaan minyak diperkirakan akan turun sebesar 80 ribu barel per hari, pada tahun 2026.
Penurunan ini dinilai cukup signifikan dari proyeksi sebelumnya yang diperkirakan naik sebesar 640 ribu barel per hari. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 4 bps ke level 4,252%, pada Selasa (14/4/2026) dan harga emas spot menguat 1,1% di level US$ 4.791 per troy ons. (nov)


