BRIEF.ID – Indeks harga saham pada perdagangan di Bursa Wall Street, New York, Amerika Serikat (AS) naik ke level tertinggi dalam dua bulan terakhir, dan harga minyak turun pada Kamis (11/6/2026) setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan ancamannya untuk mengebom Iran. Pembatalan itu meningkatkan harapan atas potensi kesepakatan yang dapat mengembalikan aliran minyak global.
Indeks S&P 500 melonjak 1,8%, setelah mengalami penurunan berturut-turut yang telah mengembalikannya ke level awal Mei 2026. Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 929 poin atau 1,9%, dan indeks Nasdaq Composite naik 2,5%.
Saham-saham langsung melonjak lebih tinggi pada perdagangan tengah hari setelah Trump mengatakan di jaringan media sosialnya bahwa “diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui” dan bahwa waktu dan tempat penandatanganan akan “diumumkan segera.”
Kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran dapat membuka kembali Selat Hormuz dan memungkinkan kapal tanker minyak untuk kembali mengangkut minyak mentah dari Teluk Persia ke pelanggan di seluruh dunia.
Harga minyak mentah acuan AS per barel turun 2,6% menjadi US$ 87,71. Minyak mentah Brent, standar internasional, turun 2,9% menjadi US$ 90,38, meskipun masih di atas harga sekitar US$ 70 sebelum perang.
Kekhawatiran meningkat setelah AS dan Iran melancarkan serangan selama beberapa hari terakhir yang mengancam gencatan senjata yang rapuh selama lebih dari sebulan.
Harga minyak yang tinggi akibat perang Iran menyebabkan inflasi melonjak tajam dan harga di tingkat grosir AS meningkat lebih banyak pada bulan Mei dari yang diperkirakan para ekonom. Dampaknya terasa di seluruh dunia, dan Bank Sentral Eropa pada Kamis (11/6/2026) menjadi bank sentral utama pertama yang menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap hal itu. (nov)


