BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (10/9/2026), jatuh ke zona merah dipicu konflik Timur Tengah yang kembali memanas.
Pada akhir sesi I perdagangan hari ini, IHSG terkoreksi 0,14% atau 9,67 poin ke level 6.668. Sebelumnya pada awal perdagangan hari ini, IHSG dibuka menguat 0,15% atau 9,98 poin ke posisi 6.688.
Selama 3 jam perdagangan, pukul 09.00 – 12.00 waktu JATS, IHSG bergerak fluktuatif, dan berakhir di zona merah dengan menyentuh level tertinggi di 6.712. dan level terendah di 6.655.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 333 saham turun harga, 272 saham naik harga, dan 186 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga atau stagnan.
Volume saham yang ditransaksikan sepanjang sesi I perdagangan hari ini mencapai 24,056 miliar lembar,d engan frekuensi transaksi sebanyak 1.490.340 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp11,547 triliun.
Tekanan terhadap IHSG dipicu sentimen negatof kembali menanasnya konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang menyebabkan harga minyak dunia kembali melonjak ke level US$100 per barel.
AS dilaporkan menghancurkan lima kapal pengangkut minyak Iran, sementara Iran merespons dengan serangkaian serangan terhadap kapal dan fasilitas yang terkait dengan AS.
Hal itu, mengganggu kelancaran pelayaran untuk pasokan minyak, yang melalui Selat Hormuz, sehingga harga minyak dunia jenis Brent melonjak ke level US$101,21 per barel pada perdagangan hari ini.
Dari dalam negeri, tekanan jual terhadap saham-saham unggulan berkapitalisasi besar (big caps) masih dilakukan investor, terutama pada 4 saham bank besar, hingga di lebih dari 1%.
Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terkoreksi 1,15% atau Rp75 menjadi Rp6.450 per lembar, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 1,46% atau Rp50 menjadi Rp3.370 per lembar.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diprediksi bergerak variatif dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran level support 6.650 hingga level resistance 6.750. (Jea)


