BRIEF.ID – PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) kini mulai memperluas sumber pertumbuhan bisnis di luar pendapatan tol. Perusahaan pengelola jalan tol terbesar di Indonesia itu membidik berbagai potensi ekonomi di sepanjang koridor jalan tol, mulai dari rest area hingga pengembangan Transit Oriented Development (TOD).
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Jasa Marga membentuk sumber pendapatan baru dari aset dan jaringan yang telah dimiliki. Ditambah lagi kata Rivan, pengembangan ekosistem di sepanjang koridor tol tersebut sebagai upaya menciptakan “new value pools”.
Salah satu yang dikembangkan adalah transformasi Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) melalui Travoy Rest. Bagi Jasa Marga, rest area tidak lagi hanya diposisikan sebagai fasilitas bagi pengguna jalan, tetapi juga sebagai ruang aktivitas ekonomi.
Pengembangan itu juga sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk memperoleh akses pasar melalui kawasan yang memiliki arus pengguna jalan dalam jumlah besar.
“Kami melihat setiap bagian dari koridor jalan tol memiliki potensi untuk menciptakan nilai. Rest area, misalnya, tidak hanya kami lihat sebagai fasilitas pendukung perjalanan, tetapi juga sebagai ruang yang dapat mempertemukan kebutuhan pengguna dengan aktivitas ekonomi masyarakat,” tutur Rivan di Jakarta, Rabu (9/9).
Selain wilayah rest area, Jasa Marga juga mengembangkan sejumlah lini bisnis prospektif di luar bisnis utama, seperti building management, advertising, utilitas, TOD, dan Toll Corridor Development (TCD).
Strategi tersebut ditopang oleh skala jaringan yang dimiliki perseroan. Hingga 30 Juni 2026, Jasa Marga menguasai 36 konsesi dengan total panjang 1.736 kilometer dan telah mengoperasikan sekitar 1.294 kilometer jalan tol. Jaringan tersebut setara sekitar 42% dari total jalan tol yang beroperasi di Indonesia.
Melalui jaringan tersebut, Jasa Marga melihat jalan tol bukan hanya sebagai infrastruktur transportasi, tetapi sebagai koridor yang menghubungkan pusat aktivitas ekonomi, kawasan industri, simpul logistik, dan destinasi wisata.
“Kami melihat jaringan jalan tol sebagai sebuah network dengan value besar saat dikelola secara terintegrasi,” kata Rivan.
Transformasi bisnis juga diperkuat dengan pemanfaatan teknologi. Sistem Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) digunakan untuk mengintegrasikan informasi lalu lintas dan kondisi jalan secara real-time, sementara aplikasi Travoy mengintegrasikan kebutuhan perjalanan pengguna dalam satu platform digital.
Memasuki semester II/2026, Jasa Marga menargetkan optimalisasi aset dan pengembangan sumber pertumbuhan baru tetap berjalan beriringan dengan disiplin alokasi modal. Perseroan ingin memastikan ekspansi bisnis tidak hanya meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi pengguna jalan, mitra usaha, masyarakat, dan pemegang saham. (ayb)


