BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dipicu harga minyak dunia yang kembali melonjak ke level US$100 per barel pada Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah hingga akhir perdagangan sesi pagi berada di level US$17.531 per dolar AS, melemah 0,11% atau 20 poin dari level Rp17.511 per dolar AS.
Sebelumnya pada awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah Jisdor dibuka melemah tipis 0,01% atau 1 poin menjadi Rp17.512 per dolar AS dari level Rp17.511 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (9/0/2026).
Hal serupa juga terjadi pada nilai tukar rupiah di pasar spot yang membuka perdagangan hari ini dengan melemah 0,15% ke level Rp17.539 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus level US$100 per barel, seiring memanasnya kembali konflik Timur Tengah antara AS dan Iran. Hal itu, membuat harga minyak dunia jenis Brent melonjak ke level US$101,21 per barel, pada perdagangan hari ini.
Selain itu, arus modal masuk (capital inflow) di pasar surat utang negara (SUN) sedikit tertahan, seiring sikap wait and see investor menjelang pengumuman data inflasi AS pada Jumat (11/9/2026).
Investor akan mencermati data inflasi AS yang tercermin pada data indeks harga produsen (PPI), dan indeks harga konsumen (CPI). Kedua data ini akan menjadi rujukan arah suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed)
Inflasi AS diperkirakan masih tinggi dan belum mengarah ke target 2%, sehingga The Fed diyakini akan menaikkan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate (FFR), pada rapat pekan depan.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak cenderung melemah terbatas di kisaran level Rp17.500 per dolar AS hingga Rp17.550 per dolar AS. (Jea)


