IHSG Diproyeksi Konsolidasi, Investor Cermati Suksesi Gubernur BI

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidasi pada perdagangan Selasa (28/7/2026) setelah mencatat pelemahan selama empat hari berturut-turut. Pelaku pasar masih menimbang perkembangan transisi kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) serta sejumlah sentimen domestik yang berpotensi mempengaruhi arah pasar.

Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak dalam rentang 6.080–6.250, dengan level support  6.080, pivot  6.180, dan resistance  6.250. Saham yang direkomendasikan untuk dicermati meliputi PGAS, INKP, TLKM, MDKA, dan ASII.

“IHSG diperkirakan cenderung berkonsolidasi pada kisaran 6.080–6.250 pada perdagangan Selasa,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya.

Pada perdagangan sebelumnya, Senin (27/7/2026), IHSG ditutup melemah 0,17% ke level 6.185,78. Secara teknikal, histogram positif MACD kembali menyempit, sementara Stochastic RSI melanjutkan pelemahan di area pivot. Meski demikian, indeks masih mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan MA20 dan MA50 sehingga peluang konsolidasi tetap terbuka.

Dari sisi fundamental, perhatian investor masih tertuju pada dinamika di BI. Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI sempat memicu kekhawatiran pasar karena meningkatkan ketidakpastian kebijakan moneter di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Namun, penunjukan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur BI dinilai memberikan kepastian jangka pendek. Pasar berharap kesinambungan kebijakan moneter tetap terjaga sehingga stabilitas nilai tukar rupiah, inflasi, dan sistem keuangan dapat dipertahankan.

Selanjutnya, fokus investor akan mengarah pada penunjukan Gubernur BI definitif. Kepemimpinan baru yang mampu menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral dipandang penting untuk mempertahankan kepercayaan pasar, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Sebaliknya, apabila muncul persepsi adanya perubahan signifikan dalam arah kebijakan moneter atau berkurangnya independensi BI, tekanan terhadap rupiah berpotensi meningkat. Kondisi tersebut juga dapat memicu volatilitas di pasar obligasi pemerintah dan memberikan sentimen negatif terhadap saham-saham sektor perbankan.

Selain faktor tersebut, pelaku pasar juga mencermati perubahan konstituen indeks LQ45, IDX30, IDX80, dan Kompas100 yang mulai berlaku pada periode 3 Agustus hingga 30 Oktober 2026. Rebalancing indeks diperkirakan akan memengaruhi arus dana, terutama pada saham-saham yang masuk maupun keluar dari indeks acuan. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Pasar Soroti Independensi BI Usai Mundurnya Perry Warjiyo

BRIEF.ID – Pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo dari jabatan...

Figur Pengganti Perry Warjiyo Jadi Sorotan, Pasar Menanti Keputusan Presiden

BRIEF.ID – Sejumlah nama mulai diperbincangkan sebagai kandidat potensial...

Investor Menantikan Penunjukan Gubernur BI Definitif

BRIEF.ID – Investor masih menantikan penunjukan Gubernur Bank Indonesia...

Harga Minyak Dunia Anjlok, Brent Kembali di Bawah US$ 90 per Barel

BRIEF.ID – Harga minyak dunia anjlok pada perdagangan Senin...