BRIEF.ID – Harga minyak dunia anjlok pada perdagangan Senin (27/7/2026) setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menghentikan aksi saling serang, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Pelemahan itu menghapus sebagian besar premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak melonjak sekitar 20% dalam dua pekan terakhir.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun 6,5% menjadi US$ 85,67 per barel pada pukul 18.45 GMT atau pukul 01.45 WIB Selasa (28/7/2026). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September merosot 7,8% menjadi US$ 82,32 per barel.
Sebelumnya, harga Brent telah menguat 20,6% dalam dua pekan terakhir, sedangkan WTI naik 19,2%, yang didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pekan lalu, Brent bahkan sempat menembus US$ 100 per barel setelah konflik Iran memicu kekhawatiran gangguan di jalur pelayaran Selat Hormuz dan Laut Merah, yang merupakan rute penting ekspor minyak dunia.
Sentimen pasar berubah setelah Washington memutuskan menghentikan kampanye serangan udara terhadap Iran yang telah berlangsung selama 13 malam berturut-turut. Penghentian operasi militer dipandang mampu meredakan risiko meluasnya konflik yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Laporan The New York Times, pada Jumat (24/7/2026) menyebutkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah membatalkan rencana untuk meningkatkan operasi militer AS di Iran setelah menggelar pertemuan dengan para penasihat utama dan pejabat senior pemerintahannya. Mengutip sejumlah pejabat AS, keputusan itu, antara lain dipengaruhi menipisnya persediaan sistem pertahanan udara Pentagon.
Di sisi lain, seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan menangguhkan serangan balasan selama penghentian operasi militer oleh AS tetap berlaku. Meski demikian, kedua negara sama-sama menegaskan kesiapan untuk kembali melakukan aksi militer apabila proses negosiasi gagal mencapai kesepakatan.
Pelaku pasar kini akan terus memantau perkembangan hubungan AS dan Iran. Meski ketegangan untuk sementara mereda, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah masih dinilai tinggi dan berpotensi kembali memicu volatilitas harga minyak apabila konflik kembali meningkat. (nov)


