IHSG Diperkirakan Bergerak Stagnan

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (21/4/2026) diperkirakan masih bergerak stagnan, dalam rentang horizontal yang terbatas antara area support dan resistance.

Mengutip riset Phintraco Sekuritas, IHSG akan bergerak pada resistance  7.700, pivot  7.600, dan support  7.500. Sementara itu, saham-saham yang diunggulkan  adalah IMPC, BRMS, TAPG, SMDR, dan DSNG.

“Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih sideways pada kisaran  7.500-7.700. Apabila  IHSG menembus level 7.500, diperkirakan berpotensi menguji level 7.450-7.480,” demikian riset Phintraco Sekuritas yang dirilis Selasa (21/4/2026).

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah 39,89 poin atau 0.52% ke level 7.594,11  pada perdagangan Senin (20/4/2026), setelah sempat bergerak menguat di awal sesi.

Ketegangan antara AS-Iran yang kembali meningkat memudarkan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat, sehingga mendorong penguatan kembali harga minyak mentah.  Semua sektor mengalami koreksi dengan pelemahan terbesar pada saham sektor properti yang sebesar 2,04%.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah ditutup menguat 0,12% di level US$ 17.168 per Dolar AS di pasar spot, pada Senin (20/4/2026), disaat mayoritas mata uang Asia lainnya mengalami koreksi. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi  mengurangi tekanan terhadap potensi meningkatnya beban pada APBN, meskipun terbatas.

Kenaikan harga BBM non subsidi  mengurangi beban kompensasi yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah  dari APBN untuk menutup selisih harga jual ke masyarakat. Namun belum dinaikkannya harga Pertamax dan Pertalite karena masih melindungi daya beli masyarakat menengah.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan rasio NPL kredit properti pada Februari 2026 sebesar 3,24%, meningkat dibandingkan 2,99% di Februari 2025. Pertumbuhan penyaluran kredit properti di Februari 2026 masih relatif tinggi, yaitu meningkat 13,7% YoY.

Kenaikan NPL juga disertai dengan bertambahnya jumlah kredit yang bermasalah. Jika BI menaikkan BI Rate untuk menahan depresiasi Rupiah berpotensi berdampak pada kenaikan NPL. Namun, diperkirakan BI belum akan menaikkan BI Rate pada pertemuan Rabu (22/4/2026). (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Saham Wall Street Ditutup Melemah

BRIEF.ID – Saham-saham yang diperdagangkan di Bursa Wall Street,...

Ketegangan AS-Iran Meningkat Picu Kenaikan Harga Minyak

BRIEF.ID – Harga minyak naik  menyusul peningkatan ketegangan terbaru...

Sumber Gas Raksasa Ditemukan di Blok Ganal Kaltim, Bahlil: Dorong Ketahanan Energi Nasional

BRIEF.ID - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)...

BEI Suspensi Saham WBSA karena Melonjak 307,74% dalam Sepekan

BRIEF.ID - Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara (suspensi)...